Untuk diriku sendiri,
Alanis sayang, semoga kau baik-baik saja saat membaca surat
dariku ini. Aku menuliskannya khusus untukmu dengan perasaan yang sulit sekali
kujelaskan. Mungkin karena terlampau gelisah, sedih, atau marah, terhadap
sesuatu yang kelak kau sendiri akan tahu apa penyebabnya. Semua ini tentang
dirimu, tentang aku—kita.
Aku bingung bagaimana harus bersikap padamu, Alanis. Untuk
semua ini sejujurnya di satu sisi aku ingin marah kepadamu, tetapi aku tahu
kadang kau terlalu sensitif untuk menghadapi amarah. Aku tak mau kau menangis
dan semakin menutup diri. Di sisi lai, mungkin aku perlu mendukungmu, tetapi
dukunganku selama ini kadang-kadang juga keliru. Itulah sebabnya aku tuliskan
surat ini dengan cara yang agak berbeda. Bila kau ingin aku memarahimu, kau
bisa memilihnya. Bila kau ingin mendukungmu, kau bisa mengaturnya. Juga bila
kau ingin aku memarahi sekaligus mendukungmu, kau bisa menentukannya.
Bagaimana caranya? Teruslah membaca surat ini dan kau akan
tahu, Alanis sayang.
Surat ini sengaja diberi angka di setiap bagiannya, agar kau
bisa membedakan mana bagian ganjil, mana bagian genap. Kau bisa membaca dengan
cara membaca hanya bagian-bagian ganjil saja, bagian-bagian genap saja, atau
membaca seluruhnya. Terserah mana yang kau suka. Tentukanlah sendiri. Sebab
surat ini khusus kutuliskan untukmu, sebagian
atau seluruhnya, itulah perasaanku tentang kamu.
1.
Tak ada yang lebih kucintai selain kamu, diriku
sendiri.
2.
Tak ada yang lebih kubenci selain kamu, dirimu
sendiri.
Kau selalu menjadi seseorang yang penuh
kebingungan dan keraguan!
3.
Meski kadang menutup diri dan menyembunyikan
kelebihan-kelebihanmu, sesungguhnya kau hebat di dalam. Ya, aku tahu itu. Kau
hanya perlu menunjukannya sesekali pada dunia—tentang apapun yang kamu bisa.
4.
Apa bagusnya memiliki kemampuan tetapi tak
pernah menunjukan pada siapa-siapa? Percuma saja kau tahu dan percaya bahwa kau
hebat dalam beberapa hal tetapi tak pernah benar-benar membuktikannya. Kau
hanya akan menjadi pecundang jika terus-menerus diam dan menunggu, keluar dan
buktikan!
5.
Kau pandai bernyanyi. Senin sore minggu lalu aku
memergokimu bernyanyi dan, oh Tuhan, suaramu bagus sekali! Aku tahu sebenarnya
kau punya suara yang indah, lebih indah dari penyanyi-penyanyi yang memecahkan
suara merdeka di televisi dan radio-radio. Andai kau punya sedikit keberanian,
dan tentu saja kesempatan, untuk menunjukannya di hadapan orang-orang, aku
yakin kau akan menjadi seorang bintang!
6.
Tetapi kau selalu seorang peragu! Kau sendiri
ingin menjadi penyanyi dan aku tahu kau bisa mewujudkannya. Tetapi keraguan
selalu menggerogoti kebulatan tekadmu. Tahukah kamu, kesempatan dan
keberuntungan sesungguhnya tak pernah berpihak pada mereka yang ragu!
Kesempatan dan keberuntungan hanya akan menjadi milik mereka yang berani. Apa
sih sebenarnya yang menghalangimu? Aku selalu heran padamu, diriku!
7.
Mari kuberitahukan satu hal padamu, Alanis:
Sebenarnya kamu juga cantik, hanya tinggal sedikit berdandan juga memilih
pakaian yang benar-benar cocok dengan karaktermu.
8.
Ah, kenapa selama ini kau mengira penampilan dan
wajahmu yang menyebabkanmu kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi seorang
penyanyi? Jangan ikuti pikiran bodohmu! Percayalah, kecantikan tak melulu soal
fisik dan apa-apa yang terlihat. Kadang-kadang kecantikanmu adalah apa yang orang-orang
rasakan—jauh sampai ke dalam hati. Percayalah, setiap perempuan akan terlihat
cantik dengan cara mereka sendiri.
9.
Diriku sayang, menurutku kau adalah perempuan
yang baik hati yang penuh perhatian dan penyabar. Hanya saja, kadang-kadang
orang-orang salah mengira tentang sifat dan sikapmu. Kalau kau lebih banyak
diam dan menyendiri, aku tahu itu karena kau tak mau melakukan hal-hal bodoh
yang tak perlu. Apa gunanya banyak tingkah dan banyak bicara bila tak bisa
memberikan manfaat apa-apa –sejak lama aku tahu prinsipmu.
10.
Ya, ya,
keraguanmulah penghalang sesungguhnya, diriku! Ah, diriku malang,
katakan saja kalau kau selama ini kurang percaya pada dirimu sendiri, jika tak
mau ini kukatakan bahwa kau terlanjur menyerah pada nasib. Kau punya cita-cita
yang besar, tetapi mengapa selama ini kau memilih diam saja? Tahukah kamu bahwa
cita-cita tak akan menghampiri mereka yang diam saja? Bagi mereka yang diam
saja, cita-cita hanya akan terus-menerus berada di angkasa –tak tergapai!
11.
Kau memang mirip ibumu. Bukan hanya wajahmu,
gesturmu, tetapi juga sifatmu, sikap-hidupmu. Sewaktu ayahmu menginginkan
seorang bayi laki-laki, padahal usia ibumu sudah terlalu tua untuk mengandung,
ibumu diam saja. Dia ikuti saja keinginan ayahmu hingga benar-benar mengandung.
Tetapi malang, saat-saat menjelang persalinan, ibumu tak kuat lagi
menjalanainya. Ibumu meninggal saat berjuang melahirkan putra terakhirnya. Bayi
laki-laki idaman ayahmu yang pada saatnya tak bisa menawar nasib untuk juga
pergi menyusul ibumu.
12.
Sebenarnya aku sangat berharap kau tidak
melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan ibumu itu. Dia tak
memiliki posisi tawar atas pilihannya sendiri, bukan? Sehingga saat ayahmu
ingin punya anak lagi dan sesungguhnya dia sudh cukup berbahaya untuk mengandung
lagi, ibumu hanya diam saja dan mengiyakan. Bila pada akhirnya ibumu meninggal,
Alanis, bahkankah dia meninggal sabagai korban atas kegagalannya menentukan
pilihannya sendiri? Padahal, Alanis, kita punya hak untuk memilih dan
menentukan hidup kita sendiri. Dan mengapa kita harus takut untuk mengatakan
dan memilih yang kita inginkan—menolak yang tidak kita inginkan? Ah, Alanis,
tetapi ternya kau memang pengecut dan peragu! Kau mengecewakanku!
13.
Tahun lalu saat kau lulus sekolah menengah dan
akan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah ke akademi kebidanan. Pilihan yang
sesungguhnya tak pernah sedikitpun kau rencanakan. Ayahmu punya rencana masa
depanmu sendiri.
14.
Kenapa Alanis? Kenapa kau sia-siakan impian dan
cita-citamu? Seharusnya kau menolah masuk akademi kebidanan dan melanajutkan
kuliah ke jurusan musik atau kesenian? Bukankah menjadi seorang penyanyi
merupakan impianmu sejak lama? Mengapa kau campakan impian itu demi menuruti
apa yang diinginkan ayahmu? Kau sungguh bodoh, Alanis! Kau telah melakukan kesalahan
yang sama seperti yang dilakukan ibumu. Kesalahan yang sesungguhnya kau sendiri
tahu bukan untuk diulangi dan dilakukan lagi.
15.
Ah, kau memang mirip ibumu, Alanis. Segera
setelah perbincangan malam itu dengan ayahmu, kau urungkan niat dan rencana-rencana
panjangmu. Kau mendaftar ke akademi kebidanan keesokan harinya untuk menjalani
rutinitas kuliah yang tak pernah kau inginkan. Orang-orang bilang kau membunuh
impianmu sendiri untuk menjadi penyanyi atu musisi, tetapi aku tahu
sesungguhnya kau hanya ingin membahagiakan ayahmu yang terlalu lama bersedih
sepeninggal ibumu lima tahun yang lalu.
16.
Maka lihatlah hidupmu sekarang, Alanis! kau
tidak hidup dalam hidupmu sendiri! Kau menjalani rutinitas keseharianmu tetapi
sesungguhnya kau tidak hidup di dalamnya. Kau menjauhi kebahagiaan hidupmu
sendiri. Mengapa kau merusak kebahagiaan hidupmu sendiri, Alanis?
17.
Ah, aku sesunggunya tahu kau anak yang baik hati
dan penurut. Aku tahu itu, Alanis. Orang-orang mengira bahwa kau terlalu
menuruti kata-kata ayahmu untuk melanjutkan sekolah kebidanan, padahal kau
lebih berbakatuntuk kuliah di jurusan musik atau keseniaan. Ah, tapi kau memang
gadis yang sungguh baik, katamu, “Bukankah aku bisa menjadi seorang bidan yang
pandai bernyanyi?”
18.
Kini, Alanis, untuk itulah aku menuliskan semua
caci maki dan amarah ini kepadamu. Bunuhlah kematianmu sendiri! Keluarlah dari
keraguanmu. Sekarang atau tidak selama-lamanya, jadilah dirimu sendiri:
Kejarlah cita-cita yang selalu membuatmu bahagia!
19.
Memang, Alanis, jalan hidup kadang-kadang harus
kita tempuh dengan cara yang tidak kita inginkan. Meskipun pada mulanya
sebenarnya kita bisa memilih dan memutuskannya. Tetapi ketika semuanya sudah
terlambat, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah terus berjalan denga
irama yang paling tepat dan langkah yang paling seimbang. Hingga di
persimpangan berikutnya, jangan ulangi lagi kesalahan yang sama, pilihlah
kemana hatimu ingin membawamu pergi. Putuskanlah jalan hidup uang terbaik yang
paling kau inginkan. Sebab kaulah tuan bagi dirimu sendiri! Berbahagialah
dengan hidupmu yang sekarang, Alanis, dan berbahagialah hidupmu selanjutnya!
20.
Demikian surat ini kurtuliskan untukmu, Alanis,
dengan penuh kebencian. Dengarlah!
21.
Sebeluumnya kuakhiri semuanya, aku ingin
memnerimu sebuah lagu, Xpresikan. Nyanyikanlah hidupmu sendiri, Alanis!
Hey kawan, hey teman semua yang mendengarkan
Ungkapkan rasa cita dalam pelukan
Bulatkan tekad untuk raih mimpi bertepi
Sesegar kopi hangat temani warnai pagi
Mentari senja tetap bersinar di ufuk barat
Mari susun rencana ke depan kita melesat
Cepat, Jangan terhambat oleh rasa ragu
Tambahkan sedikit susu tuk aroma kopi yang baru
Ungkapkan rasa cita dalam pelukan
Bulatkan tekad untuk raih mimpi bertepi
Sesegar kopi hangat temani warnai pagi
Mentari senja tetap bersinar di ufuk barat
Mari susun rencana ke depan kita melesat
Cepat, Jangan terhambat oleh rasa ragu
Tambahkan sedikit susu tuk aroma kopi yang baru
Hey kau, Jadikanlah dirimu
seperti yang kau mau
Just
free ur mind and keep it real..
Hey kau, Xpresikanlah dirimu
seperti yang kau mau
Just free ur mind and keep it
real..
Ini tentang langkah yang kau
tentukan
Cara yang kau pakai tuk mencapai sebuah tujuan
Apa artinya kaki bila kau tak berjalan
Apa guna mata bila tak menatap masa depan
Untuk apa bermimpi, bila kau tak melangkah
Cara yang kau pakai tuk mencapai sebuah tujuan
Apa artinya kaki bila kau tak berjalan
Apa guna mata bila tak menatap masa depan
Untuk apa bermimpi, bila kau tak melangkah
Untuk apa kesempatan bila tak
ambil celah
Persetan aku, dia, juga mereka
Bulatkan tekad, lalu. rasakan lah merdeka!
Persetan aku, dia, juga mereka
Bulatkan tekad, lalu. rasakan lah merdeka!
Free your mind and keep it
real,
Just Xpress your self!
Xpress your self, much love and respect!
Xpress your self, much love and respect!
Alanis Sayang, itulah kesukaanku yang selalu aku dengarkan
belakangan ini untuk menguatkan dan menyemangatiku. Aku juga ingin kau
mendengarkannya. Meresapi maknanya. Semoga kita selalu setia untuk saling
mengingatkan dan menguatkan.
Aku sangat menyayangimu.
Salam
Alanis
0 Response to "Xpresikan"
Posting Komentar