Selasa, 14 Oktober 2014
Kita Selamanya
~
Sudah satu minggu salah satu jam tangan koleksiku rusak. Sebuah jam tangan G-Shock Fisherman DW-8600 keluaran tahun 1996. Sebelumnya aku pikir baterainya habis dan sudah saatnya diganti. Lalu aku mengganti baterainya dengan yang baru; tetapi, sayangnya, dia tetap tak berfungsi!
Dua hari yang lalu aku membawanya ketempat resparasi jam tangan lengganku—sebuah toko kecil milik Koh Acing di bilangan Jakarta Selatan. Aku sudah senang karena jam tangan itu kembali berfungsi sepulang dari toko Century Jaya milik Koh Acing. Tak ada spare-part yang diganti dan cukup membayar ongkos resparasi kecil sebesar dua puluh lima ribu rupiah. Fahmi, ahli reparasi jam tangan andalan Koh Acing hanya membukanya, memperhatikan mesinnya yang menurutnya masih baik-baik saja, membersihkannya dari debu-debu, lalu mengencangkan kembali baut-bautnya. Ajaib, jam tangan digital itu kembali menunjukan angka-angkanya dan, oh, aku senang sekali.
Sayang, meski tidak seribu sayang, keesokan harinya jam tangan itu kembali kehilangan angka-angkanya...
G-Shock Fisherman DW-8600 keluaran tahun 1996 koleksiku bukan jam tangan biasa. Bukan karena harganya mahal atau karena aku susah payah mendapatkannya. Tetapi lebih karena seseorang yang memberikannya.
Jam tangan ini hadiah sari salah seorang sahabatku, anggap saja begitu, namanya Wina. Istimewanya, jam tangan itulah yang pertama kali membuatku jatuh cinta pada waktu yang ‘terperangkap’ di dalam arloji—angka-angka yang seolah mengendalikan sekaligus dikendalikan oleh sesuatu yang gaib bernama ‘waktu’. Sejak itulah aku memutuskan untuk memulai hobi baru mengoleksi jam tangan digital—
Baiklah, kalu boleh jujur, dulu Wina adalah pacarku. Dialah perempuan pertama yang berhasil membuatku jatuh cinta, seperti G-Shock pemberiannya yang membuatku terobsesi pada angka-angka dalam arloji. Sayangnya, kami putus sekitar dua tahun yang lalu karena alasan yang tak bisa kujelaskan pada kalian saat ini. Kami berpacaran sejak SMA dan kenangan manis bernama Wina adalah yang paling istimewa dari seluruh rekam-jejak karir asmaraku.
Entah bagaimana, Wina tetap punya posisi istimewa dalam hhatiku. Dia seolah punya ruangan tersendiri, yang meskipun begitu jauh berada di dasar hatiku, sejujurnya aku masih rajin menengoknya; berjalan-jalan di sana, berdiam diri untuk waktu yang cukup lama—menikmati kenangan kita berdua. Ada foto-foto kami di sana. Surat-surat cinta kami. Keisengan-keisengan kami. Ciuman dan pelukan pertama kami.
Lalu jam tangan itu? Aku menyebutnya G-Shock Wina. Bukan hanya angka-angkanya yang penting, bagiku ia bagaikan sebuah pintu agar aku bisa memasuki salah satu ruangan dalam hatiku yang pernah ditinggali Wina untuk waktu yang cukup lama. Maka, ketika ia rusak, aku merasa seperti mendapati pintu yang rusak. Ia harus terjaga dan baik-baik saja. Titik.
Kini jam tangan itu rusak entak mengapa; menerbitkan rasa gausar dan gelisah dalam hatiku. Tiga malam belakangan ini aku susah tidur. Ada perasaan tidak enak yang hinggap di diriku. Aku juga jadi gampang terjaga, dan telingaku sering berdenging. Ah, aku tak mengerti apa yang sedang terjadi; saat susah tidur seperti itu aku biasanya mencoba memperbaiki G-Sock Wina yang sedang rusak; membolak-baliknya, mememncet tombol-tombolnya, menentakkannya ke telapak tangan—meskipun aku ta pernah benar-benar yakin bisa memperbaikinya.
Namun, diatas itu semua, yang mengherankan, entah mengapa pada tiga malam itu kenangan tentang Wina tiba-tiba menguat dan menyeruak dari ingatanku. Wina, apa kabar ya dia sekarang?
***
Aku baru saja mengubah setting profile ponsel dari silent ke normal ketika mesin komunikasi mungil itu berdering. Nomor pemanggil yang muncul dilayarnya berasal dari salah satu teman lamaku di SMA: Abduh. Ini agak mengherankan sebab sudah lama sekali kami tak saling kontak. Segera aku mengangkatnya. Abduh yang biasanya periang kali ini kudengar berbicara dengan suara parau yang berat. Setelah sedikit berbasa-basi menanyakan apa kabarku dan aku ada dimana, Abduh segera memberitakan kabar itu, “Kamu bisa mengusahakan ke jogja? Wina meninggal. Besok pagi dimakamkan. Teman-teman dijogja sudah berkumpul di rumah duka, yang lain sedang dihubungi satu per satu dan segera menyusul.”
Kabar itu begitu menyentak. Inikah jawaban mengapa G-Shock Wina tak berfungsi selama beberapa hari ini? Ah, entahlah!
***
Aku segera berbenah. Aku menelepon atasanli untuk meminta izin tak masuk kantor besok karena urusan mendadak. Urusan keluarga, kataku, ada saudara yang meninggal. Tak seperti biasanya, atasanku yang terkenal galak dan ribet urusan ini-itu segera melepaskan izinya. Mungkin karena alasanku menyangkut kabar duka, mungkin juga karena hal lain. Entahlah, yang jelas aku segera menelpon taksi.
Begitu taksi datang, aku segera tancap ke stasiun kereta api. Hari ini seolah segalanya menjadi lancar. Taksi yang datang lebih cepat dari yang aku perkirakan, sopirnya yang cekatan dan banyak bicara, tiket kereta yang masih tersedia, dan kereta malam yang berangkat tepat pada waktunya.
Aku melirik G-Shock Mudman G-9000-3V keluaran tahun 2009 ditangan kiriku, waktu menunjukan pukul 22.36. Kalau tidak ada hambatan dijalan, kereta akan sampai di stasiun Tugu, Jogja, kurang lebih 07.10 pagi.
***
Sepanjang perjalanan aku menerima beberapa pesan singkat tentang kematian Wina. Sebagian besar adalah teman-teman lamaku semasa SMA. Sebagian dari mereka sedang dalam perjalanan menuju Jogja, sebagian yang lain sudah ada di sana dan besok akan turut mengantar jenazah Wina ke pemakaman, hanya satu-dua orang yang tidak datang.
Sepanjang perjalanan, kenangan-kenangan tentang Wina menyeruak dari dalam ingatan. Ya, bagi kami, Wina memang bukan sekedar teman biasa. Terutama bagiku, ia sungguh baik hati. Semasa SMA dia seolah menjadi “ibu” bagi kami semua. Kalau ada teman yang belum mengerjakan PR, dia selalu mengingatkan untuk dikerjakan—bahkan dia tak segan-segan memberikan PR-nya untuk disalin teman-teman lain yang belum mengerjakan.
Suatu kali, guru Matematika kami menyuruh Roni mengerjakan soal logaritma di papan tulis. Ini semacam hukuman karena sejak tadi Roni terlihat hanya menggambar dan tak memperhatikan pelajaran. Kami tahu Roni tak bisa mengerjakannya, dia tampak panik dan begitu gugip, sementara kami hanya diam dan menunggu. Tetapi, Wina, diam-diam dia menyeludupkan catatannya ke bawah bangku agar Roni bisa mendapatkannya, Wina sudah mengerjakan soal itu dan Roni tinggal menyalinnya di depan. Tersebab catatan milik Wina, Roni selamat dari hukuman lain yang lebih berat. Pada jam istirahat, Roni berterima kasih kepada Wina dan Wina hanya mengatakan sederhana, “Kadang kita memang nggak suka pelajaran tertentu, tetapi memperhatikan bukan soal suka atau nggak suka. Memperhatikan adalah soal menghargai. Tadi aku bisa menolongmu, tetapi aku nggak tahu lain kali. Rasanya nggak ada salahnya kan kalu memperhatikan pelajaran, Ron?” tanyanya sambil tersenyum.
Diluar soal pelajaran, Wina juga sangat istimewa, dia begitu ramah dan perhatian. Dia tak segan sangat istimewa, dia begitu ramah dan perhatian. Dia tak segan menolong dan membantu siapa saja. Kalu ada satu-satunya murid di sekolahan kami yang bisa bersahabat dengan para preman sekolah sekaligus anak-anak rohis, mungkin Wina-lah orangnya. Tak ada yang berani melukai perasaanya, barangkali Wina akan memaafkanya, tetapi dia akan berurusan dengan puluhan bahkan ratusan teman di sekeliling Wina—yang begitu menyayangi kami semua.
Aku beruntung bisa mendapatkan hatinya. Saat tahu Wina dan aku berpacaran, satu sekolah membicarakannya. Bukan satu atau dua orang yang cemburu, aku merasa menjadi musuh terlalu banyak laki-laki di sekolah. Seminggu, dua minggu, sebulan, aku memang merasa tak nyaman dengan situasi semacam itu. Tetapi lama kelamaan kami jadi pasangan favorit di sekolah. Hampir semua orang dari guru sampai penjaga sekolah tahu bahwa kami pacaran.
Ah, Wina, mengapa begitu cepat kamu pergi?
***
Aku melirik jam tanganku, waktu sudah menunjukan pukul 02.31. entah mengapa perjalanan terasa begitu lama, meski kereta berjalan dengan merambati kabel-kabel earphone dari iPod Nano di genggamanku; Kita Selamanya.
Detik detik tirai mulai menutup panggung
Tanda skenario baru mulai diusung
Lembaran kertas barupun terbuka
Tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
Kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
Pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
Masa jaya putih biru atau abu-abu
Memori crita cinta aku, dia dan kamu
Saat dia masuki alam pikiran
Ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
Cinta masa sekolah yang pernah terjadi
That was the moment a part of sweet memory
Kita membumi, melangkah berdua
Kita ciptakan hangat sebuah cerita
Mulai dewasa, cemburu dan bungah
Finally now, it’s our time to make a history
Bergegaslah kawan... ‘ tuk sambut masa depan
Tetap berpegang tangan, saling berpelukan
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat... kita untuk slamanya...
Rasanya seluruh ingatan terlempar pada masa SMA. Di sana ada aku dan Wina. Juga teman-teman yang entah bagaimana caranya tak pernah bisa hilang dalam ingatan.
Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
Satu cerita teringat didalam hati
Karena kau berharga dalam hidupku, teman
Untuk satu pijakan menuju masa depan
Saat duka bersama, tawa bersama
Berpacu dalam prestasi... Huh, hal yang biasa
Satu persatu memori terekam
Di dalam api semangat yang tak mudah padam
Ku yakin kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
Kawan... kau tahu, kawan kau tahu, kan?
Beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan
Bergegaslah kawan... ‘ tuk sambut masa depan
Tetap berpegang tangan, saling berpelukan
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat... kita untuk slamanya...
***
“Selamat ulang tahun, ya!” Aku masih mengingat senyumnya yang manis, matanya yang puitis. 20 November, 6 tahun yang lalu, tepat di hari ulang tahunku.
Sekolah kami mulai sepi ketika Wina menyerahkan hadiah itu. Dia memang sengaja menhanku untuk tak pulang dulu. Di depan kelas III C, diatas bangku kayu, dibawah pohon kersen yang daun-daunnya mulai menguning, kami duduk berdampingan. “Ini hadiah buat kamu,” Wina menyerahkan sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas abu-abu bertekstur kayu.
Aku senang bukan main, “Apa ini? Tanyaku segera setelah mendapatkannya, “Makasih banget ya, Win!”
Dia mengangguk perlahan, matanya bertemu dengan mataku, “Semoga kamu suka, ya” katanya.
“Aku pasti suka, dong! Apapun hadiah dari kamu pasti aku suka!”
Di hadapan kami, beberapa murid kelas II sedang bermain baset 3 on 3. Teriakan-teriakan mereka bergaung di sudut-sudut kelas. Angin berhembus perlahan. Sebuah kantung plastik hitam terbang di lorong kelas—
“Iya, pokoknya selamat ulang tahun. Aku pengin kamu lebih menghargai waktu dan memfaatkannya untuk kebaikan hidupmu.”
“Iya, pasti! Makasih banyak, ya? Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam hiduplu,”janjiku.
“Buka dong,” kata Wina. Dia tersenyum ke arahku.
Pelan-pelan aku membuka kotak kecil yang dibungkus kertas abu-abu bertekstur kayu itu. Di dalamnya, sebuah kotak palstik transparan memperlihatkan sebuah kado terindah sepanjang hidupku; itulah pertemuan pertamaku dengan G-Shocl Fisherman DW-8600 berwarna hitam keluaran tahun 1996. Mataku berbinar menatapnya. Aku segera membuka kotaknya dan menimang-nimang jam tangan indah itu.
“Ini pasti mahal, Win!” kataku spontan.
“Waktu tak pernah murah,” kata Wina,”Jangan lihat harganya, ya? Aku ikhlas kok ngasihnya. Udah lama aku memang mau ngasih jam tangan ini buat kamu.”
“Makasih banget, Win! Ini istimewa banget,” kataku, “Kamu tahu? Ini hadiah paling indah dalam hidup seseorang,” balasnya.
Suara bola basket memantul-mantul, sebuah teriakan, lali suara ring di hantam bola. Teriakan. Seorang anak kelas II dengan seragam yang basah keringat mengempalkan tangannya ke udara.
“Waktu itu misterius, ya?” kata Wina tiba-tiba.
“Eh, kenapa?” tanyaku.
“Aku selalu heran bagaimana caranya waktu bisa memberikan kehidupan yang berbeda bagi setiap orang, “ Wina membetulkan posisi duduknya.
“Apakah waktu yang merekam ingatan dan kenangan?”
“Barangkali,” Wina mengangkat bahunya, “Sudah beberapa menit kita duduk di sini? Sudah beberapa menit mereka bermain basket tiga lawan tiga? Apa yang kita rasakan dengan apa yang mereka rasakan pasti berbeda, padahal waktu yang kita habiskan sama. Barangkali mereka berpikir mereka sudah lama bermain basket siang ini, tetapi kita berpikir baru sebentar duduk berdua di sini—padahal bisa jadi waktu yang kita habiskan sama saja. Apa hubungannya waktu dan persepsi? Waktu dan ingatan? Waktu dan kenangan?” tanya Wina sambil menunjuk beberapa orang yang sedang bermain basket.
Aku menatap Wina dengan tatapan penuh pertanyaan. Meskipun bukan kali pertama dia berbicara hal-hal serius semacam ini, tetapi apa yang dia katakan saat itu benar-benar berbeda! “Aku nggak tahu. Win. Mungkin berkaitan dengan cara setiap perasaan yang berbeda, mungkin begitu juga terhadap waktu,”jawabku.
Wina tersenyum, “Lupakan saja,” katanya, “Aku hanya penasaran tentang waktu. Apakah hidup kita yang dikendalikan oleh waktu, atau kita yang mengendalikan waktu?”
“Aku tak tahu. Barangkali yang kedua, kitalah yang mengendalikan waktu. Setiap orang punya cara sendiri bagaimana hidup dalam waktu. Artinya, setiap orang punya cara-cara sendiri bagaimana memperlakukan waktu yang mereka miliki.”
Wina mengangguk-angguk. “Itulah sebabnya aku menghadiahkan sebuah jam tangan kepadamu,” ucapnya. Kemudian dia menatap kearahku, “Banyak orang yang melupakan waktu, sehingga mereka menyia-nyiakan hidup mereka masing-masing. Aku harap kau tak pernah melupakan waktu, sehingga kau tak pernah berpikir untuk menyia-nyiakan hidupmu. Selamanya.”
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata terakhir Wina.
Aku mengangguk.
“janji?” tanya Wina sambil menyodorkan kelingkingnya ke arahku.
“Aku akan berusaha. Aku tak bisa berjanji,” jawabku, lalu kami menautkan kelingking kami berdua.
“Kita selamanya!” kata Wina, “Meskipun kelak kita berpisah, atau salah satu di antara kita pergi lebih dulu, waktu sudah merekam kenangan kita berdua, kini dan di sini, untuk selamanya!”
“Kita selamanya!” Kataku.
Waktu dalam arloji sudah menunjukan angka 04.12. aku benar-benar tak bisa tidur. Perjalanan Jakarta-Jogja malam ini terasa benar-benar panjang. Ah, Wina, kau benar, waktu begitu misterius! Taukah kamu, setelah kau memberikan G-Shock DW-8600 berwarna hitam di hari ulang tahunku, aku mabuk apapun tentang waktu! Aku terobsesi angka-angka dalam arloji! Kamu juga tahu, setelah itu aku jadi pengoleksi jam tangan dan kita tak menghentikan percakapan-percakapan kita soal waktu! Bahkan hingga saat ini, meski kita sudah tak bersama lagi.
“Lebih baik putus!” katamu di ujung telepon.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku sudah tidak kuat,” tegasmu, “Waktu selalu berkhianat pada jarak! Kita memang berada di dua kota yang tak terlalu jauh, aku kuliah di Bandung dan kamu di Jakarta. Tetapi perpisahan kita selalu terasa begitu lama!”
Itulah alasan utama perpisahan kita, Wina. Bukan karena kita sudah tidak saling suka, atau cinta diantara kita sudah tiada. Tetapi kita tak bisa menundukkan waktu. Waktu memperbudak jarak dan cinta kita—rasa rindu kita yang bagai kuda liar mengamuk—dan kita tak bisa mengendalikannya.
Apakah aku sudah menjelaskannya kepadamu, Wina? Waktu dalam hitungan teknis matematis kadang-kadang mengkhianati waktu dalam gagasan kesadaran persepsi kita terhadapnya. Waktu juga memang sering kali mengkhianati jarak. Tak terbantahkan. Sekarang aku sedang menjalani salah satu buktinya: dalam perjalanan yang menempuh jarak yang sama, kadang-kadang, kita merasakan rentang waktu yang berubah-ubah dan berbeda-beda. Dia dipengaruhi banyak hal yang melingkupinya. Jakarta-Jogja biasanya kutempuh dengan sekejab mata, sebentar sekali, baru saja aku terlelap di Jakarta, lalu aku akan bangun di Jogja. Tapi malam ini, semuannya berbeda!
Aku masib ingat pertannyaanmu, Wina: Apa itu waktu?
Teka-teki waktu ternyata sudah menjadi teka-teki terbesar sejak awal permulaan manusia, Wina. Apakah dia sesuatu yang terus menerus mengalir, bermula dari satu titik dan berakhir pada titik lain, seperti dunia Heraklitos yang terus mengalir? Entahlah. Baginya, hidup dan waktu seperti sebuah alir sungai; kita tak pernah bisa menceburi sungai yang sama dalam keadaan yang sama dua kali. Sebabnya sederhana, air sungai terus mengalir dari hulu ke hilir. Begitulah hidup dan waktu.
Namun, waktu bagi filsuf yang lain, Heidos, waktu adalah sebuah daur melingkar. Sebuah perjalanan siklus yang terus-menerus berubah. Kita mungkin mengalami waktu pada perjalanan yang sama, tetapi kedirian kita berubah seiring putaran kita pada perjalanan waktu itu. Inilah daur melingkar: kita bisa mengalami hari Senin pukul dua belas yang sama, tetapi sesungguhnya kedirian kita berubah—menjadi lebih tua satu minggu, misalnya. Sejujurnya, Wina, agak bingung juga bagiku mencerna gagasan ini.
Hingga aku membaca Phytagoras. Dia jjuga ternyata mengamini waktu sebagai daur melingkar. Baginya, kita mungkin akan mengalami siatu momen yang sesungguhnya pernah kita alami, tetapi dengan kedirian—kesadaran, gagasan, persepsi—yang berbeda. Jika kita bersalin rupa mengalami kedirian yang lain, bisakah ada sepotong ingatan yang tertinggal dan bisa kita pungut lagi? Hei, Wina, inikah yang di sebut de javu? Sebuah momen yang pernah kita alami, lalu kita alami lagi, tetapi dalam kedirian yang berbeda?
Apa itu waktu? Aku masih mengingat pertanyaanmu, Wina. Hingga kini sejujurnya aku masih sulit menjawab pertannyaanmu.
Jangan-jangan waktu itu sebenarnya tak ada? Jangan-jangan dia hanya ilusi?
Mungkin, waktu hanyalah ilusi. Seperti kataku di bawah pohon kersen di sekolah waktu itu, sesuatu yang berkelindan sangat erat dengan persepsi dan gagasan-kesadaran kita.
Ya, Wina, waktu sangat berkaitan erat dengan presepsi manusia. Manusia tidak bisa menyerap waktu tanpa presepsi. Dan, begitu besar kemungkinan bahwa tanpa presepsi, maka waktu juga tak pernah ada. Coba kita bayangkan, tentunya dengan presepsi dan kesadaran yang kita miliki; jika kita tak pernah merasakan apa yang kita sebut selama ini sebagai ‘lama’, ‘sebentar’, ‘satu menit’, ‘satu tahun’, dan seterusnya. Dan jika pengetahuan kita selama ini menganggap kalu ‘ukuran’ dan ‘satuan matematis’ itu sebagai waktu, maka tanpa persepsi dan kesadaran, waktu sesungguhnya tak akan pernah ada(?).
Ah, Wina, sejujurnya aku juga masih ragu, bernarkah waktu adalah ilusi dan jika tanpa presepsi, sesungguhnya waktu tak ada?
Henri Bergson (1859-1941) mungkin pernah menjawab kebimbangan ini dengan cara membedakan ‘waktu’ ke dalam dua jenis yang dia sebut sebagai time and duration. Bagi Bergson, keduanya berbeda. Time (waktu) adalah apa yang kita kenal selama ini sebagai satuan matematis yang memiliki ukuran yang sangat berkaitan erat dengan revolusi matahari—detik, menit, jam, dan seterusnya. Sementara itu, duration adalah ‘waktu yang hidup’, waktu yang berada dalam persepsi dan kesadaran kita, waktu yang berada dalam persepsi dan kesadaran kita, waktu yang menyatu dengan diri kita. Bagi Bergson, hanya duration yang terkait dengan persepsi dan kesadaran. Jadi, bila persepsi dan kesadaran tidak lagi ada, hanaya duration yang tidak ada. Time tetaplah ada, selama revolusi matahari masih tetap ada.
Ah, Wina, manakah yang bernar? Aku seperti menjawab sebuah teka-teki dengan teka-teki lain yang sama-sama membingungkan. Mengapa jalan seakan tak berujung dan kereta tak sampai-sampai? Mengapa detik-detik bergerak begitu lambat? Mengapa kamu pergi begitu cepat?
***
Pukul 07.28 kereta tiba di stasiun Tugu, Jogja. Terlambat sekitar 20 menit dari jadwal semestinya. Di stasiun, aku dijemput Hendri dan Ratri, dua sahabat lama, teman SMA, sepasang kekasih yang kini telah menjadi suami istri dengan seorang putri.
Ah, mengapa ada waktu yang terlambat? Andai aku bisa kembali ke masa lalu. Memberi kesempatan buatku untuk mengulangi kembali setiap keputusan dan perjalanan, memperbaiki kesalahan-kesalahan; mungkin aku akan mempertahankan hubunganku dengan Wina. Aku akan rela meninggalkan Jakarta untuk pindah ke Bandung—tempat Wina kuliah. Aku akan mencegah Wina pindah kembali ke Jogja. Aku akan menjadi lelaki yang mengikuti perasaan dan kata hatinya, bahwa aku masih mencintai Wina dan akan melakukan apapun yang dapat membuatnya bahagia.
Andai aku bisa menguasai ilmu tentang waktu, mengetahui apa yang terjadi di masa depan, barangkali aku akan tahu bahwa Wina akan pergi dengan cepat dan hanya punya sedikit waktu dalam hidupnya. Andai saja aku tahu, aku akan memberikan hari-hari terbaikk di saat-saat terakhir hidupnya.
Ah, andai aku bisa menjawab pertanyaan Wina: Apa itu waktu?
***
Pukul 08.57 aku tiba di rumah duka. Bau kamper menguar ke seluruh penjuru ruangan, menyesaki seluruh ruang penciumanku. Lalu aku menatap jenazah itu, Wina yang diam dengan tenang—perempuan cantik yang selalu ingin tahu kini menyerah di hadapan waktu.
Lambat-lambat percakapan-percakapanku dengan Wina menguat dalam ingatan. Apa itu waktu? Ini hadiah untukmu! Aku cinta kamu! Jangan pergi1 aku sudah tak tahan lagi! Kita seharusnya terus bersama. Waktu selalu mengkhianati jarak. Kenapa aku yang lebih sering ke Jakarta daripada kamu ke Bandung? Lalu kita jadi dua remaja SMA yang saling berkejaran ditaman bunga. Kita bersepeda berdua. Sembunyi-sembunyi merayakan ciuman pertama. Apakah kau juga mencintaiku? Alu melihat wajah Wina yang lugu. Menatapku. Apa itu waktu?
Aku terdiam untuk waktu yang cukup lama. Sejujurnya, disalam, aku berusaha menghentikan waktu. Aku ingin menerobos ke masa bertahun-tahun yang lalu saat Wina masih ada dan kita masih bersama. Aku ingin menghidupkan Wina kembali. Aku membacakan doa dan mantra apa saja yang aku bisa—tetapi waktu terus berjalan, detik-detik terus berguguran, dan Wina tetap saja terbaring bergeming. Teman-teman yang lain segera menghampiriku, menepuk-tepuk pundakku, lalu membingungku ke ruangan lain tempat berdoa.
Dalam doa aku terus menerus menghadirkan Wina dalam ingatan; semua tentangnya. Beberapa anggota keluarga sudah menyiapkan keranda untuk membawa Wina ke pemakaman.
Disanalah aku melihat wajah Wina untuk terakhir kalinya, saat kain putih yang menutupi wajahnya sisibak dan waktu seolah berhenti: Menghisap diriku ke dalam doa—bibirku bergetar, bahuku berguncang, air mataku bergulir tak tertahankan!
***
Tiba-tiba Aku dan Wina jadi dua anak SMA yang saling kejar di lorong sekolah. Tiba-tiba kita jadi sepasang kekasih yang saling melempar senyum dan bertukar hadiah. Tiba-tiba kita terlempar pada kenangan berdua yang terperangkap dalam masa lalu.
“Apakah waktu yang merekam ingatan dan kenangan?” mata Wina tampak berbinar.
“Waktu merekam kamu dalam diriku.” Jawabku.
Wina tersenyum kepadaku—dalam ingatan.
“Kita selamanya! Kataku, sambil tersenyum, lalu menautkan jari kelingking kami berdua.
Lalu waktu berhenti untuk beberapa saat. Mem-pause dirinya sendiri, sampai pada saatnya dia kembali berputar, meneruskan kepingan hidup yang lain...
... dan G-Shock Fisherman DW-8600 kembali memunculkan angka-angkanya!
0 Response to " Kita Selamanya"
Posting Komentar