Sabtu, 16 November 2013
HBDM
Sang Juara
Kau kecewa hari ini? Kau merasa kalah hari ini? Kau merasa hidupmu tak sehebat yang kau bayangkan? Tenanglah, Kalky, hidup memang tak melulu soal kebahagiaan. Kadang-kadang kita lupa, bahwa saat kita merasa kalah dan kecewa sesungguhnya merupakan saat-saat terkuat kita.
Kau tak percaya? Izinkan aku bercerita.
Lelaki itu kembali memikul dagangannya; dua keranjang besar yang dipenuhi bersisir-sisir pisang. Bayang-bayang pohon sudah lebih panjang dari dirinya sendiri-_jam dinding di sebuah toko yang baru saja dia lewati mengabarkan bahwa waktu beranjak senja. 14.28, tujuh jam lebih sejak kali pertama lelaki paruh baya itu menginjakan kaki di seberang pintu rumahnya pagi tadi. Sesiang ini, tak sesisir pun pisang terjual. Dia menyusuri jalan-jalan, memasuki liang-liang gang yang sempitndan dipadati rumah-rumah penduduk sambil terus berteriak menjajakan dagangannya, "pisaaaang.... pisaaaang... pisaaaang..."
Tak seorang pun menyahut. Tak seoranngpun memanggil untuk berhenti. Di gang sempit, orang-orang hanya memandang lelaki itu sekilas--seperti berkata pada diri mereka sendiri, "Oh, ada tukang pisang lewat"--lalu kembali sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Seorang ibu muda sedang menyuapi anak perempuannya, pemuda gondrong sibuk mencuci montor barunya, anak-anak kecil berlarian sambil tertawa. Sementara lelaki itu, sang penjual pisang, terus berjalan menjemput rejeki yang entah bersembunyi dimana. "pisaaaang.... pisaaaang... pisaaaang..." dan masih saja tak seorang pun memanggilnya untuk berhenti--sekedar tertarik pada pisang dagangannya.
Sementara detik-detik terus berguguran di sepanjang langkahnya yang berat, lelaki paruh baya penjual pisang mulai merasakan lapar yang melilit di perutnya. Ia berhenti sejenak di persimpangan jalan, tepat menghadap masjid yang sedang mengumandangkan azan. Kemudian, lelaki penjual pisang menarik napas panjang, mengusap keringat--lantas meneruskan langkah ke muka masjid. Ashar telah tiba dan dia berminat mengistirahatkan tungkai kakinya yang lelah sambil menunaikan Ashar bagi Tuhannya.
Usai shalat, sang penjual pisang duduk di pelaratan masjid menghadap keranjang dagangannya. Lapar masih melilit perutnya.
"Berapa pisangnya?" Suara berat seseorang memecahkan kristal lamunannya. Lelaki tambun dengan kantung plastik hitam di tangan kanannya.
"Eh, yang itu tujuh ribu, Pak."
"Lima ribu, ya?"
Llelalki penjual pisang berpikir sejenak, "Kalau enam ribu tidak apa-apa, Pak. Ambil saja. Kalau lima ribu belum bisa." Dia tersenyum ramah.
"Ya sudah, saya beli dua sisir yang ini." Lelaki tambun menunjuk pisang pilihannya.
Dengan cekatan, lelaki penjual pisang memasuki dua sisir pisang ke dalam kantung plastik hitam. "Ini, Pak." katanya setelah selesai.
Ini uangnya, kembalinya ambil saja," kata lelaki tambun itu.
Penjual pisang berdebar. Sedetik napasnya tertahan. "Wah, terima kasih banyak, Pak. Semoga rezeki Bapak selalu lancar dan dimudahkan..."
"Amin," jawab lelaki tambun itu, pendek, sambil tersenyum. Lalu pergi.
Penjual pisang mengipas-kipaskan dua lembar uang sepuluh ribu rupiah dan lima ribu rupiah di atas pisang dagangannya. Dia berharap uang itu bisa menular, semacam mantra, sihir pedagang yang bisa mengubah pisang menjadi uang. Barangkali.
Lelaki itu segera beranjak dari tempat duduknya. Meneguhkan kembali keyakinan bahwa Tuhan tak mungkin membuatnya menderita hingga ia tak bisa menahannya. Dia kembangkan lago dadanya, dia tegakkan langkahnya, lalu menghitung langkah menemui rezeki yang dia yakini sedan menunggunya dia berbagai sudut bumi. Meski lapar masih melilit perutnya, penjual pisang terus berjalan..."pisaaaang.... pisaaaang... pisaaaang..."
Tak pernah ada nestapa yang tak berkesudahan, kalky. Hidup selalu punya caranya sendiri untuk melobangi kebuntuan.
Lelaki paruh baya penjual pisang tiba di sebuah sudut perkampungan. Disana beberapa pedagang sedang berkumpul; penjual mie ayam, gulali, dan mainan anak-anak. Dia segera bergabung. Seperti bertemu saudara sendiri, mereka menyambut lelaki penjual pisang dengan penuh kehangatan dan keramahan.
"Sudah laku berapa, tho?" tanya pedagang mie ayam berlogat jawa.
"Yah, sekarang memang susah, kalau dagang buah-buahan begini." kata lelaki penjual pisang diakhiri tawa.
"Sama," kata penjual gulali, "Sekarang anak-anak dilarang jajan gulali sama orangtuanya. Jualan ginian jadi susah."
Mereka semua tertawa. Seoalah beban yang mereka pikul berlepasan satu per satu. Penjual mainan anak-anak mulai merapikan dagangannya.
"Sudah makan, belum?" kata penjual mie ayam pada lelaki penjual pisang.
"Belum," jawab lelaki penjual pisang, singkat.
"Barte karo pisang sesisir, yo? Tak kasih semangkuk jumbo mie ayam spesial! Gelem ora?"
"Boleh, boleh..." kata lelaki penjual pisang antusia.
"Sip!" Penjual mie ayam tersenyum mengacungkan jempolnya, menggangkat kedua alisnya.
Lalu, penjual mie ayam mulai meracik semangkuk mie ayam spesial yang dijanjikannya. Aromanya mulai membebaskan lapar yang melilit di perut lelaki penjual pisang. Dia tersenyum. Air liur mulai membasahi rongga mulutnya.
Kalky, hidup selalu indah pada waktunya. Dan Tuhan tak pernah tertidur untuk melupakan mereka yang percaya pada takdirnya.
07.39, Selepas Isya, lelaki penjual pisang sudah sampai di rumah kontrakan kecilnya. Anak-anak dan istrinya sudah menunggu untuk makan malam seadanya; pepes tahu dan kerupuk bawang.
"Hore, Bapak pulang!" teriak anak lakinya, yang palinh besar. Dia berlari menyambut bapaknya, adiknya yang perempuan membuntuti dari belakang. Kedua anak it memeluk kaki bapaknya. Lelaki penjual pisang mengusap-usap rambut mereka, mencium keningnya satu per satu, "Ayo, kita makan!" katanya kemudian.
Istri mencium tangannya. Lelaki penjual pisang enyum tulus ke arahnya. "Makan apa kita hari ini, Bu?"
"Pepes tahu dan kerupuk bawang." kata istrinya ramah.
"Alhamdullillah..." kata lelaki penjual pisang.
"Ini uang untuk belanja besok, dan untuk jajan anak-anak." Lelaki penjual pisang menyodorkan dua lembar lima ribu dan selembar sepuluh ribuan.
"Laku banyak hari ini, Pak?" Istrinya menyodorkan segelas air putih.
"Enam sisir..." katanya, kemudian ia meneguk segelas air putih dihadapannya, "Satu sisir ditukar mie ayam, satu sisir lagi ditukar mainan ini!" Sambunganya sambil mengeluarkan robot-robotan kecil dan boneka kertas dari tas pingganggnya.
Melihat oleh-oleh yang dibawa bapaknya, anak-anak senang bukan kepalang! "Asyiiikk!" Teriak si sulung, melompat gembira.
Sementara itu, anak perempuanya tersipu, tak lama kemudian ia menghampiri bapaknya lalu mencium pipi lelaki penjual pisang itu, "Makasih, Bapak," bisikanya
Istrinta tersenyum. Ia merasakan kebahagiaan luar biasa berbunga dihatinya. "Ayo kita makan." katanya lembut.
***
Malam itu, lelaki penjual pisang yang malang, yang berjlan puluhan kilo dengan keringat menguncur dari keningnya, menjajakan pisang dari gang ke gang, menjadi juara di rumahnya sendiri.
Di luar rumah, suara jangkrik bersahutan. Deru knalpot bocor. Pijar lampu 10 watt. Suara tawa terdengar berderai dari dalam rumah kontrakan mungil lelaki penjual pisang.
Lihatlah, Kalky, kebahagiaan adalah soal bagaimana kita menjadi juara diri kita sendiri. Maka, jadilah juara biarkan dirimu dikalahkan rasa takut dan ragu. Sebab, setia orang adalah juara bagi dirinya sendiri.
Barangkali, kita bisa belajar dari lagu ini, Kalky;
Usaplah keringat
yang mengalir membasahi keningmu
angkatlah keatas dagumu yang tertunduk layu
jangan menyerah, jangan mengalah...
Bangun, bangkitkan
semangat juangmu hingga membara
yakinkan, pastikan inilah puncak segalanya
berbanggalah karena kau adalah sang juara
Kau luapkan energi terhebatmu
terangi bumi dengan peluh semangatmu
hadirkan buih keringat, basuhi raga
basahi kulit, basahi jiwa, lalu busungkan dada
Keringat adalah hasil...
jerih payahmu terbayar
dengan semangat yang kau ambil
terbang tinggi menuju awan
di mana kau bisa lupakan semua lawan
Setiap langkah, setiap jiwa,
di tiap langkah mulai bercerita
wakilkan semua mimpi-mimpi yang tenggelam
siap menantang bumi
dan.. kau adalah pemenang!
Bangun, bangkitkan
semangat juangmu hingga membara
yakinkan, pastikan inilah puncak segalanya
berbanggalah, karena kau adalah sang juara!
Buat apa menangis, jika masih ada senyum
buat apa kau mundur, kawan...
jika hidup berjalan maju
bila kau terjatuh, segera bangkit dan bangun
pusatkan pikiran dan tetap melaju
F ke 0, dan K ke U, S: FOKUS
konstan, tetap lihat ke depan, kawan
genggam erat pegangan, lihatlah titik tuju
raih pusat sasaran, jadilah nomor satu
Jangan menyerah... jangan mengalah
Berbanggalah.. karena kau adalah.. Sang Juara!
Di sebuah sofa di rumah mewah, dua lelaki sedang duduk berdampingan. Seorang ayah dan laki-lakinya. Beberapa jarak dari sofa itu, puluhan trofi penghargaan menghiasi sebuah lemari jati. Tepat di hadapan 'lemari prestasi' itu, puluhan foto dipasang hampir memenuhi tembok; foto-foto yang penuh sejarah kemenangan dan diambil dengan berbagai latar belakang kota dunia; Tokyo, New York, Moscow, Dubai, Canberra.
"Di mata sebagian orang, ayahmu ini barangkali dianggap juara sejati, Kalky. Berbagai penghargaan pernah ayah dapatkan, dari level desa hingga dunia. Dan kau? Apakah harus seperti ayah? Tidak, Kalky. Kau bisa menjadi dirimu sendiri. Kau bisa bersinar dengan cahayamu sendiri."
Anak laki-laki itu mengangguk pasti. Ada cahaya yang mulai berpijar di dadanya.
"Jadi, jangan khawatir jika kau tak seperti Ayah. Jadilah dirimu sendiri. Setiap orang bisa menjadi juara bagi dirinya sendiri, Kalky. Kau tahu mengapa sejak tadi aku ceritakan kisah lelaki penjual pisang?"
Anak lelaki itu menggeleng pelan.
Beberapa saat mereka terdiam. Sampai ayahnya menunjuk ke arah sebuah foto yang terpajang di salah satu dinding ruangan: foto seorang lelaki tua berpenampilah sederhana, "Lelaki itu, Kalky," kata sang ayah dengan suara tercekat, "Dialah penjual pisang itu. Kakekmu. Dialah juara bagi hidupnya sendiri, dan juara sejati dalam kehidupanku. Tak tertolak!"
Beberapa saat anak lelaki itu memandangi gambar kakeknya dalam foto; Dia teringat kisah tentang langkah-langkah kakeknya menyusuri jalan demi jalan, gang demi gang, menjual pisang. Dia melihat ayahnya. Dia melihat sekelilingnya. Dia melihat dirinya sendiri. Lelaki itulah, kata anak itu dalam hati, penjual pisang itu, dengan seluruh kesederhanaan, dialah sang juara yang sesunggunya! Kakekku!
Lamat-lamat, lagu it kembali berputar dikepalanya, Sang Juara;
Keringat adalah hasil...
jerih payahmu terbayar
dengan semangat yang kau ambil
terbang tinggi menuju awan
di mana kau bisa lupakan semua lawan
Setiap langkah, setiap jiwa,
di tiap langkah mulai bercerita
wakilkan semua mimpi-mimpi yang tenggelam
siap menantang bumi
dan.. kau adalah pemenang!
0 Response to "Sang Juara"
Posting Komentar