Ya Sudahlah (HBDM)
Ya Sudahlah ~
Friendship is giving someone
The ability to destroy you—
But trusting them not to...
***
“Jadi, apa makna persahabatan kita selama ini, Suf? Anjing! Elu udah berubah banyak, Suf! Lu nggak kayak dulu lagi!gue kecewa, Suf!” Irwan mendengus sambil menggebrak meja kayu di sampingnya. Lalu mendorong tubuh Yusuf hingga sahabatnya itu mundur beberapa langkah.
Yusuf mengangkat wajahnya, menatap langsung bola mata Irwan yang nyalang—diliputi amarah dan kebencian. Bibirnya masih menggigil, tangannya setengah terkepal ketika dia berusaha mengendalikan semua emosinya, “Lu nggak usah emosi kayak gitu, Wan! Dengerin dulu penjelasan gue! Gue minta maaf, Wan! Gue tahu gue salah, tapi semuanya bakal gue ganti, Wan! Gue janji!” nada bicara Yusuf terbawa tinggi.
Irwan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tatap matanya menunjukan rasa tak percaya yang sudah sampai pada puncaknya. “Ajing, lu, Suf! Jelas-jelas elu udah khianati gue, sahabat elu sendiri! Otak lu ditaro di mana, sih! Suf!? Gue ngumpulin duit itu dua tahun dari sisa gaji gue yang kecil! Gue pengin ngubah hidup gue yang gini-gini aja sebagai karyawan biasa di studio foto, duit itu buat beli kamera DSLR! Gue pengin bisa motret sendiri dan bikin usaha kecil-kecilan. Lu juga tahu impian gue, kan, Suf?” Suara Irwan mulai melandai ketika dia setengah terduduk di tepian meja kayu di sampinya.
Yusuf hanya diam. Kepal tangannya lunglai. Kepalanya menunduk.
Satu detik, lima detik, dua belas detik, Yusuf hanya terdiam. Mata Irwan mengincar wajah Yusuf yang menunduk—dia menunggu jawaban. “jawab, Anjing!” emosi Irwan naik lagi. Suaranya menyalak memenuhi hampir seluruh ruang pendengaran Yusuf.
Yusuf mengangguk perlahan. “Ya, gue tahu, Wan,” katanya pelan.
Irwan kembali menggelengkan kepalanya. Dia berteriak menumpahkan seluruh rasa kesalnya. Sekali lagi dia menggebrak meja. “padahal gue udah percaya banget sama elu, Suf! Lu emang anjing, Suf! Gue percaya eli nggak mungkin ngerusak impian gue, tapi apa buktinya? Duit itu sekarang ludes1 gue pikir gue nggak mungkin berteman sama maling, nyatanya gue punya sahabat yang rampok! Bangsat!”
Yusuf hanya terdiam. Dia tak terima dengan semua yang dikatakan sahabatnya itu—tapi, bisa apa dia? Dia memang salah. Dia tahu Irwan pantas murka atas apa yang dia lakukan kepadanya.
Irwan sebenarnya menyimpan semua tabungannya di Bank. Tetapi minggu lalu, Yusuf datang ke tempat kerja irwan hendak meminjam uang pada sahabatnya itu. “Lima ratus ribu aja, Wan. Gue lagi butuh banget. Carla ulang tahun,” pinta Yusuf dengan wajah memohon.
Sayangnya, saat itu Irwan sedang tak memegang uang, sementara dia sedang repot oleh pekerjaanya. Irwan tampak berpikir untuk beberapa saat, lalu dia merogoh dompet dari saku belakangnya, dan mengeluarkan sebuah kartu. “Lu ambil sendiri ke ATM. “Ambil lima ratus ribu, sesuai yang lu butuhin. Masih inget kan pin-nya? 2341.” Kata Irwan. Yusuf mengiyakan, ia bergegas menuju ATM.
Irwan sebenarnya tak ingin ;mengganggu’ tabungannya di Bank, tetapi melihat sahabatnya begitu membutuhkan bantuannya, dia tak punya pilihan lain. Kita bersahabat sejak SMP, mengapa seorang sahabat harus begitu sulit untuk membantu sahabatnya sendiri? Pikir Irwan. Lagi pula irwan tahu Yusuf begitu mencintai Carla—wajar saja saat Carla uulang tahun, Yusuf rela berhutang dulu untuk membahagiakan kekasihnya itu.
Tetapi, tanpa sepengetahuan Irwan, Yusuf mengambil seluruh uang di tabungan sahabatnya itu; seluruhnya enam juta tujuh ratus ribu rupiah. Itulah asal-usul pertengkaran mereka siang ini—petaka bagi persahabatan mereka.
“Gue kepepet, Wan! Maafin gue!” Yusuf berusaha menjelaskan.
“Kepepet apa? Kepepet lu jalan sama cewek lu, heh? Foya-foya ngabisin duit tabungan gue? Anjing! Lu sadar nggak, Suf, kalo lu udah ngerusak impian yang udah gue bangun dua tahun?” Retorikal sekaligus getir, pertanyaan Irwan mengincar rasa malu sahabatnya.
Yusuf tahu apa yang sudah dilakukannya merupakan kesalahan-kesalahan besar di mata Irwan. Dia merasa terkepung. Sedih dan terlunta.
“Kayaknya semua persahabatan kita jadi percuma!” Irwan membanting pintu dengan amarah dan rasa kecewa yang menggumpal—bergegas meninggalkan Yusuf yang masih tergugu.
***
3 jam yang lalu
Irwan sudah merencanakan semuanya. Ia sudah menelpon Yudi—agen penjual camera DSLR seken yang dia kenal di sebuah forum jual-beli online di internet—untuk bertemu dan melakukan pembayaran EOS 500D seken pesanannya. Harganya sudah disepakati, Rp. 6.200.000,- ditambah bonus lensa Kit EF-S 18-55, tas kamera, dan memori 8 GB.
“Barangnya masih mulus, kan, Gan?” kata Irwan di telepon pagi tadi.
“Buat Agan, dijamin masih mulus 95%!” jawab Yudi
“Mantap!”
Kemudian mereka bertemu di tempat yang sudah dijanjikan. Setelah berbasa-basi tentang kabar, tempat tinggal, dan perkejaan, Yudi mengeluarkan EOS 500D jualannya. Mata Irwan langsung terbelalak melihatnya.
Irwan tak ragu lagi, secara fisik barang pesanannya memang masih mulus dan benar-benar tampak seperti baru. Semua kelengkapannya, kardus, buku panduan, CD, serta kabel USB dan AV, semua masih ada dan terawat dengan baik. Bonus yang dijanjikan juga tidak lupa dibawa. Setelah mencoba beberapa jepretan, memastikan fungsi mesin, layar LCD, dan settingan yang lain masih baik-baik saja, Irwan benar-benar tak ragu lagi untuk segera membayarnya.
“Oke, Gan, bungkus! Ane jadi ambil barang ini.” Kta Irwan Setengah bercanda.
“Bisa kurang lagi, nggak, Gan?” Irwan berusaha menawar sekali lagi.
“Udah pas, Gan. Dijamin nggak kemahalan!”
Irwan mengangguk--dan tersenyum. “Ane ke ATM dulu bentar, Gan!”
Yudi mengangkat jempolnya—dan tersenyum. “Siap!” katanya sigap.
Di depan ATM, Irwan sudah menghitung sisa tabungannya jika dia menarik sejuumlah uang yang harus ia bayarkan pada Yudi. Masih ada sisanya, pikir Iwan. Nanti malem gua bisa trakttir si Yusuf sambil pamer kamera baru. Ia tersenyum dalam hari.
Tapi apa nyatanya? Ketika ia memperlihatkan barisan angka di layar mesin ATM di hadapannya, dadanya seperti di hantam gadam puluhan kilogram. Jalan napasnya seperti dibekap. Sesak dan berat. Seseorang telah mencuri angka-angkanya! Hanya tersisa Rp. 43.500,- dan artinya ia kehilangan Rp. 6.700.000,- yang telah dia kumpulkan susah payah selama dua tahun!
Irwan keluar dari bilik ATM seperti orang tua yang linglung. Dia berjalan ke kiri dan ke kanan. Barangkali dia bisa menelusuri jejak kapan dan di mana angka-angka dalam tabungannya telah tercuri melalui Customer Service di Bank. Tetapi bagaimana dia menjelaskan semuanya pada Yudi? Bagaimana dia menghindar dari tuduhan sebagai penipu? Bagaimana dia menghadapi kenyataan bahwa impiannya juga ikut tercuri?
Waktu seolah-olah dimantapkan ke dalam sebuah kotak hitam; dua tahun yang panjang, getir dan berat. Lalu kotak hitam itu lenyap secara mistis dan gaib. Langkahnya mulai lunglai. Amarah mulai merambat menguasai hatinya. Tatapan matanya nanar...
Dan nama Yusuf tiba-tiba menyelinap dari balik tirai kecurigaannya!
***
52 jam yang lalu...
Yusuf mulai panik ketika ia mendapati namanya tidak keluar sebagai pemenang dalam pengumuman lomba menulis esai yang diselenggarkan sebuah departemen pemerintah. Minggu lalu ketika dia menerima pengumuman nominasi pemenang lomba menulis esai, dia begitu yakin akan menjadi juaranya. Empat nama yang menjadi saingannya, sudah dia baca semua karyanya—dan menurutnya tak terlalu bagus untuk memiliki kans sebagai pemenang utama. Jika juri punya selera yang cukup baik, pikirnya saat itu, dialah yang harus jadi juaranya!
Tetapi, hari ini, saat waktu pengumuman tiba, kesombongannya ternyata tak beralasan. Bukan dia juaranya, tetapi seorang yang dia pikir menang memiliki kans sebagai juara kedua—di bawahnya. Sementara dia? Kenyataannya, hari ini dia tak mendapatkan predikat apapun; tidak juara kedua maupun ketiga... tersisihkan!
Mendadak, kepalanya jadi berat. Ya, kini ia menyadari bahwa kesombongan hanya akan membuat kepalanya jadi berat—dengan rasa sakit yang membebat. Oh, hadiah pertama 10juta rupiah, hadiah kedua 7,5 juta rupiah, dan hadiah ketiga 5 juta rupiah... tiba-tiba melayang dari angan-angannya...
Baiklah, dia mengerti bahwa kekalahan memang bukan akhir dari segalanya. Lagi pula ini juga bukan kekalahannya yang pertama dalam kompetisi semacam ini. Masalahnya, bagaimana dia harus menebus kesalahannya, dan menghadirkan kembali angka-angka dalam tabungan sahabatnya, Irwan?
Empat hari lalu, saat dia meminjam uang dan Irwan memberikan kartu ATM-nya untuk diambil sendiri oleh Yusuf, dia melanggar kepercayaan sahabatnya. Seharusnya dia hanya mengambil lima ratus ribu saja sesuai yang diizinkan—tetapi dia mengambil semua tabungan sahabatnya! Hari ulang tahun kekasihnya dan dia ingin memberikan hadiah paling istimewa di dunia. Kenapa hanya lima ratus ribu jika aku bisa meminjam lebih dari itu dan memberikan hari ulang tahun terindah untuk Carla? Pikir Yusuf. Lalu dia membebaskan angka-angka peliharaan Irwan dari kandangnya. Aku akan segera menggantinya, pikirnya. Ya, dia akan menstrafernya segera setelah menerima hadiah utama lomba esai yang diikutinya! Setelah itu dia bergegas menemui Carla, kekasihnya, memberikan hadiah yang mahal dan istimewa. Merayakan makan malam mewah pertama. Juga membeli beberapa gadget yang sudah dia incar sejak lama.
Tapi kini, dia tahu semua itu hanya ketololan hasil spekulasinya yang kekanak-kanakan. Bagaimana sekarang? Ah, kenapa penyesalan selalu datang belakangan? Aku akan tetap menggantinya. Segera. Kata Yusuf dalam hati. Tapi bagaimana cara menggantinya?
Aku akan tetap menggantinya. Ia hanya yakin—meski tak benar-benar tahu bagaimana caranya.
7 hari kemuadian...
Tak terasa sudah seminggu mereka tidak bertemu dan saling memberi kabar. Selama seminggu itu, persahabatan mereka seolah membeku, menggantung, untuk tidak mengatakannya hancur...
“Persahabatan adalah memberikan kemampuan kepada seseorang untuk ‘menghancurkan’ kita—sekaligus mempercayai sepenuuhnya bahwa dia tak akan melakukannya. Gue sendiri, tapi elu khianatin kepercayaan gue...” emosi Irwan sudah reda ketika dia memutuskan untuk kembali mendatangi Yusuf sore itu.
Bagi Irwan, hampir tak ada lagi rahasia yang dia sembunyikan dari Yusuf. Begitu juga sebaliknya. Irwan tahu apa yang paling disukai sekaligus dibenci sahabatnya. Begitu juga Yusuf, dia tahu apa yang paling disayangi dan ditakuti Irwan. Mereka tahu pin ATM masing-masing. Mereka mengenal kebiasaan dan sifat mereka satu sama-lain. Jika orang lain mengenal Yusuf sebagai pemuda alim yang ramah dan baik hati, Irwan tahu bahwa sahabatnya sesekali menikmati gambar dan video porno. Jika orang lain mengenal Irwan sebagai pemuda yang tegas dan dewasa, Yusuf tahu betul Irwan sesungguhnya pemuda yang selalu penuh kekhawatiran dan ceroboh. Mereka tumbuh bersama, dewasa bersama—dan saling mengetahui segalanya yang bisa ‘menghancurkan’ citra dan harga diri keduanya. Modal mereka hanya saling percaya. Prinsip persahabatan mereka sederhana; friendship is giving someone the ability to destroyer you—but trusting them not to...
“Gue minta maaf, Wan. Gue tahu gue udah ngelakuin hal bodoh. Hal terbodoh yang pernah gue lakukan dalam hidup gue.” Yusuf masih tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya di hadapan Irwan. Suaranya lemah.
Senja telah merapuh—berganti dingin malam. Di puncak pohonan, bulan purnama-susu merebahkan dirinya. Lamat-lamat, sayatan gitar Joe Satriani melengkingkan Always With Me, Always With You dari kamar kos sebelah. Dua pemuda itu duduk berdampingan dengan kedua tangan menggenggam ujung bangku—dengan kaki-kaki yang menggantung.
Irwan menarik napas panjang, lalu menghembuskan karbon dioksida dari mulutnya.
“Gue bakal maafin lu, Suf. Tapi elu tetep harus ganti duit gue! Persahabatan dan uang adalah dua hal berbeda.” Irwan berusaha mencairkan suasana lagi. Dia tertawa kecil.
Mendengar kalimat terakhir Irwan, biasanya Yusuf ikut tertawa. Setiap kali saling membelikan sesuatu, misalnya meminta roko atau digantikan kedalam bentuk lain. Rokok diganti rokok, misalnya. Atau taktir makan diganti traktir bensin. Di akhir, mereka akan mengatakan hal yang sama—lalu tertawa bersama: Persahabatan dan uang adalah dua hal yang berbeda. Seperti kata Mario Puzo, friendship and money: oil and water.
Tapi kali init idak. Yusuf dibekap rasa bersalah yang paling baik. Tapi gue bener-bener nyesel dan minta maaf. Gue janji bakal ganti duit lu. Gue ngerasa jadi orang paling bego sedunia, Wan. Gue belum pernah kayak gini sebelumnya. Gue juga heran kenapa gue bisa melakukan hal sebodoh ini tanpa pertimbangan yang matang dan dewasa.” Yusuf tampak benar-benar tertekan.
Irwan mengangguk-angguk. Dia menarik napas panjang, sekali lagi. “Maafin gue juga, Suf. Mungkin marah gue berlebihan sama elu tempo hari. Tadinya gue berfikir buat nggak temenan lagi sama elu, Suf! Gue pikir elu udah bener-bener mengkhianati persahabatan kita—tapi gue sadar bahwa setiap orang pernah bikin kesalahan. Mungkin elu lagi ada di posisi yang nggak bagus waktu bikin kesalahan itu, tapi bakal makin nggak bagus kalo persahabatan kita juga berakhir. Mungkin elu emang lagi ngawur, tapi bakal makin ngawur kalo gue sebagai sahabat ninggalin elu dalam keadaan kayak gitu.” Di antara mereka berdua, Irwan memang lebih dewasa dalam menyikapi hampir semua persoalan. Barangkali lima hari yang lalu ia memang marah besar—hatinya menyempit. Tetapi tidak hari ini.
Yusuf benar-benar menjadi pendiam. Ia tak banyak berkata-kata. Ketika Irwan mengakhiri kalimatnya dengan senyum, Yusuf memang membalas senyumnya—tetapi dia kembali larut dalam rasa malu sekaligus rasa bersalah... “Kenapa lu masih mau maafin gue padahal gue udah ngancurin impian lu, Wan?”
Irwan tersenyum. “Akhirnya gue sadar, Suf, nggak ada yang bisa ngancurin impian gue. Nggak elu, nggak juga siapapun. Hanya gue yang bisa menghancurkannya. Impian gue tetap ada dan gue bisa mewujudkannya. Sekarang mungkin hanya sedang tertunda—atau barangkali Tuhan tahu kalau sekarang memang belum waktunya buat gue mewujudkannya, jadinya Dia bikin elu nyolong duit gue berpikir impian gue hancur, maka impian gue bakal bener-bener hancur. Kalo elu berpikir impian gue bakal bener-bener hancur. Kalo gue berpikir impian gue tetap ada, dia akan tetap ada dan siap dieksekusi kapan aja jadi kenyataan!”
Yusuf tersenyum. Ia mengangguk. “Elu bener, Wan.”
Irwan menepuk-tepuk pundak sahabaynya. “Kita nggak boleh kehilangan persahabatan kita yang lebih berharga dari duit enem juta, Suf!”
“Tapi gue tetep salah dan minta maaf. Wan.”
“Persahabatan yang sempat menggantung beku mulai mencair dan mengalir kembali ke dalam darah mereka masing-masing. Malam ini, mereka berdua menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang di halamann kamar kos Yusuf. Tentang apa saja. Suara musik dari kamar sebelah terus berganti. Kini alunan reggae dari Bob Marley mengentak dengan Buffalo Soldier-nya. Malam semakin larut dan lampu-lampu mulai dimatikan...
***
12 hari kemudian...
Yusuf mendatangi studio foto tempat Irwan bekerja dengan dada yang bungah. Di jalan, dia lari tergesa-gesa dan berharap bisa segera menghabarkan semuanya kepada Irwan. “Ikut gue!” Yusuf langsung menarik tangan Irwan ketika mereka bertemu.
“Gue masih kerja, Suf!” Irwan berusaha melepaskan tangan Yusuf ketika sahabatnya terus menyeretnya keluar dari studio.
“Pokoknya ikut gue sekarang!” kata Yusuf.
Di halaman parkir studio foto, Yusuf melepaskan genggamanya pada lengan Irwan. Kini mereka berhadapan, saling menatap. Yusuf tersenyum-senyum, sementara Irwan masih menyimpan tanda tanya besar di kepalanya.
“Tebak, gue mau ngasih kejutan apa?” Yusuf memulai kejutannya.
“Sarap, lu! Ya mana gue tahu?!” jawab Irwan. Dia tersenyum sini sambil merenggangkan kedua lengannya. “Lu mau bayar utang, ya?” Irwan mulai menebak.
Ysuf tersenyum lebar; sebenarnya sejak tadi ia terus-menerus tersenyum, tapi kali ini lebih lebar. “Bisa jadi,” kata Yusuf, “Tapi enggak juga, sih.”
“Ah, lu buang-buang waktu, Suf!” kata Irwan, “Elu ngeganggu jam kerja gue, nih! Gue bisa dimarahin bos gue!”
“Baca ini! Yusuf menyodorkan surat kabar kumal yang di genggamnya sejak tadi.
Irwan mengambilnya, membaca bagian yang ditunjukkan sahabatnya. Seolah ada sesuatu yang menjalari tubuhnya, senyumnya merekah tak tertahankan.
“Anjing! Gila lu!” komentar Irwan, “Gimana ceritanya?” Dia membaca nama Yusuf Maulana tertera sebagai juara lomba menulis cerpen di surat kabar nasional itu.
“Sebulan lalu, gue ikutan lomba nulis cerpen di koran ini, Wan. Ini lomba nulis cerpen bergengsi karena berskala nasional dan koran paling berpengaruh di Indonesia. Waktu itu gue tertarik karena salah satu hadiahnya kamera profesional yang udah elu impikan sejak lama itu. Rencananya, kalo gue menang, kamera itu emang bakal gue jadiin hadiah buat elu!”
“Wah, elu emang jagoanya kalo nulis-nulis, Yuf! Gue tahu itu sejak kita SMA! Hebat!”
Yusuf tersipu malu.
“Jadi kameranya buat gue, Suf? Gue bakal lupain soal duit itu! Kamera ini lebih keren!” Irwan tampak bersemangat.
“Tapi sayang gue gagal dapetin kameranya, Wan.” Air muka Yusuf tiba-tiba berubah layu.
Irwan terdiam. Ia tampak mengherani sahabatnya sendiri. Mereka saling menatap.
“Kamera itu hadiah buat juara kedua,” Yusuf kemudian menjelaskan semuanya, “Sementara gue dapet hadiah pertama. Gue Cuma dapet laptop sama duit lima juta.”
“Gokil! Itu lebih bagus, bego!” sambar Irwan.
“Tapi gue tetep gagal ngedaperin hadiah yang gue pengin, Wan. Gue pengin jadi juara kedua dan dapetin kameranya buat elu!”
Irwan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Dasar kampret! Terus gimana caranya ikutan lomba biar jadi juara kedua? Kita bisa dengan gampang jadi yang terbaik dan jadi juara pertama. Tapi jadi juara kedua? Gimana caranya?”
Mereka berdua tertawa. Langit Jakarta tampak benar-benar cerah siang ini. Angin berembus perlahan.
“Besok kalo hadiah laptopnya dateng, gue bakal jual diem-diem tuh barang! Duitnya bakal gua rampok dengan kekerasan!” Irwan tertawa. Yusuf tertawa.
“Bebas! Lu boleh rampok apapun harta yang gue punya1 yang penting kita rayakan semua ini di warung soto Mas Karno! Hidup Mas Karno!” kata Yusuf sambil mengepalkan tangan ke udara.
Lalu dua sahabat itu berjalan, saling merangkul, dan masih terus tertawa... masa-masa yang telah mereka lalui bersama terangkum jadi satu; SMP, SMA, hingga kini, memperlihatkan berbagai warna sketsa hidup yang pernah mereka jalani... Itulah persahabatan sejati. Sebuah momen etis sekaligus momen tragis. Ia tak menghilangkan konsep hidup yang memang terdiri dari tarik-menarik antara nilai-nilai yang berbeda satu sama lainnya, positif-negatif, hitam-putih, baik-buruk, dan seterusnya. Ia justru membebaskan nilai-nilai itu untuk saling bertemu daan saling melengkapi—menggenapkan satu sama lainnya...
...dari toko kaset di sebebrang jalan, lagu hits Bondan Prakoso & Fade 2 Black seolah mengiringi langkah mereka berdua yang ceria, Ya Sudahlah!
Ketika mimpimu yang begitu indah
tak pernah terwujud, ya sudahlah...
Saat kau berlari mengejar anganmu
dan tak pernah sampai, ya sudahlah...
Apapun yang terjadi, ku ‘kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih,
coz everything’s gonna be OK...
Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan
bersama jiwa, cita,cinta dan harapan
Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu ada
Juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak karang
namun ku tahu... ku tahu kau mampu
‘tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datang
Saat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat, ya sudahlah...
dengar ku bernyanyi
Lalalala nanana hey yeye yaya
Deduu dedadedi dedudidam hmm hmm
semua ini belum berakhir...
satukan langkah..langkah yang beriring!
genggam hati, rangkul emosi!
... Genggamlah hatiku, satukan langkah kita
Sama rasa, tanpa pamrih
ini cinta..across da sea
peluklah diriku..
terbanglah bersamaku,
melayang jauh..
come fly with me, baby
Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yang menerima kelemahan hati
aku cinta kau... ini cinta kita
cukup satu waktu, untuk satu cinta
Satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu untuk yang ditunggu
Bahagia hingga ujung waktu
0 Response to "Ya Sudahlah (HBDM)"
Posting Komentar