---Mimpi
ku jelang
matahari dengan segelas teh panas
Di pagi ini ku bebas karna gak ada kelas
Di ruang mata ini kamar ini serasa luas
Letih dan lelah juga lambat-lambat terkuras
Di pagi ini ku bebas karna gak ada kelas
Di ruang mata ini kamar ini serasa luas
Letih dan lelah juga lambat-lambat terkuras
Teh sudah
habis kerongkonganku pun puas
Mulai ku tulis semua kehidupan di kertas
Hari-hari yang keras, kisah cinta yang pedas
Perasaan yang was-was dan gerakku yang terbatas
Mulai ku tulis semua kehidupan di kertas
Hari-hari yang keras, kisah cinta yang pedas
Perasaan yang was-was dan gerakku yang terbatas
Tinta yang
keluar dari dalam pena
Berirama dengan apa yang ku rasa
Dalam hati ini ingin ku ubah semua
Kehidupan monoton penuh luka putus asa
Berirama dengan apa yang ku rasa
Dalam hati ini ingin ku ubah semua
Kehidupan monoton penuh luka putus asa
Tinggalkanlah
gengsi hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
Senang bahagia hingga kelak kau mati
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
Senang bahagia hingga kelak kau mati
---Harapan
Bertahun-tahun
kemudian, berpuluh-puluh tahun kemudian, seorang lelaki tua membelai rambut seorang
gadis belia yang murung dan putus asa. Cahaya maghrib begitu temaram sementara
dingin semakin menyelusup ke pori-pori—sisa hujan sore tadi. Gadis itu menangis
di bangku taman beberapa blok tak jauh dari rumahnya. Orang-orang yang sedari
tadi lalu lalang menatapnya dengan pandangan iba; seperti, melihat gadi
berkerudung merah penjual korek api di malam Natal. Gadis yang cantik, begitu
barangkali pikir mereka, mengapa dia menangis? Beberapa orang mendatanginya
sejak tadi, menanyakan apakah dia baik-baik saja, apakah ada yang bisa mereka
bantu? Tetapi jawab gadis itu, “Terima kasih, kau hanya sedang bersedih dan
ingin menangis. Aku baik-baik saja.”
Saaat lelaki tua itu
datang beberapa menit kemudian, gadis itu menangis lebih keras lagi. Dia
memeluk tubuh lelaki itu dan menumpahkan air matanya di sana.
“Kakek, mengapa aku
tak bisa membahagiakan orangtuaku? Mengapa aku selalu gagal dalam segala hal di
hidupku? Mengapa aku tak bisa mewujudkan mimpi-mimpiku?”
Lelaki itu mengeratkan
pelukannya. Gadis belia merasakan kenyamanan yang merambati perasaannya.
“Tidak, cucuku,” kata lelaki tua itu, “Jangan pernah berkata begitu. Barangkali
kadang-kadang hidup memang tidak menyenangkan, tetapi jangan padamkan mimpimu.
Jangan lelah bermimpi dan berharap. Putus asa hanya kata yang sia-sia.”
--Titik Balik
“Saya memulai semua
ini dari bawah,” kata pemilik rumah makan itu, seorang reporter surat kabar
kota sedang mewawancarainya, “duapuluh tahun yang lalu, ketika saya masih muda,
saya hanya tukang cuci piring di sebuah kedai makanan di Stasiun Kota.”
“Lalu bagaimana Bapak
bisa memulai bisnis rumah makan ini? Hingga sekarang menjadi Pengusaha dengan 16 cabang rumah makan tersebar lima
kota berbeda?” reporter itu membetulkan posisi alat perekam yang dibawanya, kemudian
mempersilahkan Pak Hasan kembali meneruskan cerita.
“Saya sempat berfikir
bahwa saya akan berakhir di ember cucian piring-piring kotor. Waktu itu saya
hanya tukang cuci. Pekerjaan saya tukang cuci. Hidup saya tukang cuci.” Mata
Pak Hasan tampak menerawang ke masa berpuluh tahun silam, “Hingga majikan
mengangkat saya menjadi asistennya. Hidup saya oleng. Saya menjadi bingung pada
diri sendiri. Saya tidak percaya. Bagaimana mungkin saya yang sehari-hari
bekerja sebagai tukang cuci harus menghadapi para pembeli dan memenuhi permintaan-permintaan mereka
dengan wewenang yang diberikan manjikan kepada saya? Biasanya saya hanya
berhadapan dengan piring-piring, menggosok dan membilas sampai cling, dan
sekarang bagaimana saya harus menjalankan tugas lain yang tidak pernah saya
pikirkan sebelumnya?”
Reporter muda itu
mengangguk-angguk. Ada senyum yang terbit dari wajahnya. Pak Hasan juga
tersenyum-masih beresemangat melanjutkan ceita;
“Dua hari setelah
diangkat menjadi asisten majikan di warung sayang menghadap untuk mengundurkan
diri dan kembali jadi tukang cuci saja. Mengapa? Tanya majikan saya. Saya tidak
bisa mengerjakan apapun selain mencuci piring, jawab saya. Di sanalah majikan memarahi
saya. Katanya, kalau hari ini kamu tukang cuci piring, bermimpilah besok kamu
akan jadi pemilik warung. Kalau kamu sudah menjadi pemilik warung, bermimpilah
tentang hal lain yang lebih besar! Sejak saat itu, kesadaran saya tersentak.
Lalu saya mulai menananm impian-impian saya sendiri.”
“Bagaimana Bapak bisa
berhenti berpikir bahwa nasib bapak hanyalah tukang cuci di warung itu?”
“Majikan saya
memutuskan untuk tidak menjual makanannya di tempat. Semua di bungkus. Sejak
permintaan pelanggan-pelanggannya semakin meningkat, majikan saya tidak punya tempat lagi untuk
menaruh meeja dan bangku-bangku. Piring-piring tidak digunakan lagi untuk makan
di tempat. Saya pun kehilangan piring-piring saya. Sejak saat itu saya mulai
percaya bahwa masa depan saya bukan lagi tukang cuci. Maka saya mulai menerima
takdir baru sebagai asisten majikan. Selama menjadi asisten, saya belajar
banyak hal dari majikan. Yang paling penting adalah soal impian kita saat ini.
Saya sendiri tidak percaya saya bisa seperti ini sekarang. Limabelas atau
duapuluh tahun yang lalu barangkali saya bermimpi punya memiliki warung
sendiri, tetapi kita tak pernah tahu Tuhan punya cara kerja yang berbeda dalam
mengeksekusi impian dan harapan-harapan kita.”
---Hasrat
Dunia memang tak selebar daun kelor
Akal dan pikiranku pun tak selamanya kotor
Membuka mata hati demi sebuah cita-cita
Melangkah pasti, pena dan tinta berbicara
Akal dan pikiranku pun tak selamanya kotor
Membuka mata hati demi sebuah cita-cita
Melangkah pasti, pena dan tinta berbicara
Tetapkan
pilihan tuk satu kemungkinan
Sebagai bintang hiburan, dan terus melayang
Tak heran ragaku, terbalut label mewah
Cerminan seorang raja dalam cerita Cinderella
Sebagai bintang hiburan, dan terus melayang
Tak heran ragaku, terbalut label mewah
Cerminan seorang raja dalam cerita Cinderella
Ini bukan
mimpi atau halusinasi
Sebuah anugrah yang kan ku nikmati nanti
Hasil kerja kerasku terbayarkan lunas... tuntas...
Melakoni jati diri sampe puas
Sebuah anugrah yang kan ku nikmati nanti
Hasil kerja kerasku terbayarkan lunas... tuntas...
Melakoni jati diri sampe puas
Tinggalkanlah
gengsi hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
Senang bahagia hingga kelak kau mati
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
Senang bahagia hingga kelak kau mati
---Utopia
Seorang penyair pernah
ditanya soal utopia.”Apa itu utopia?” tanya seseorang kepadanya.
“Utopia adalah sebuah
titik, yang ketika kau berada di sebuah horison, titik itu berada sepuluh
langkah di hadapanmu,” kata di penyair, “setiap kali mendekatinya sepuluh
langkah, titik itu akan menjauh sepuluh langkah. Dan ketika itu selalu menjauh
sebanyak langkah yang kau ambil,” lanjut si penyair.
“Lalu, apa pentingnya
utopia?” Si penanya terus bertanya.
“Itu tadi, utopia
penting untuk dimikili. Agar kau selalu melangkah, dan terus melangkah.”
---Perspektif
“Ayah, mengapa
kadang-kadang seseorang begitu sulit mewujudkan mimpi-mimpinya? Mengapa
anak-anak ayah yang lai menjadi orang yang berprestasi dan berhasil sementara
aku hanya menjadi pelajar biasa dengan nilai-nilai yang tidak terlalu baik? Aku
juga ingin membahagiakan ayah dan ibu seperti apa yang dilakukan Kirana, juara
lomba ini dan itu. Tapi, mengapa aku tak bisa melakukannya?” tanya Kautsar pada
ayahnya.
“Tidak ada yang sulit
selama kita mengetahui potensi terbaik yang kita miliki, Kautsar. Kemudian kita
serius untuk mengasahkan dan mengolahnya supaya menjadi lebih baik lagi. Lagi
dan lagi. Maksud ayah, kita harus terus menerus berusaha. Lalu bersabar dengan
setiap prosesnya.”
Kautsar masih mencerna
apa yang dikatakan ayahnya. Dia sengaja yang gerimis itu angin berhembus
perlahan. Genangan air bekas hujan terserak basah. Ada bangku tembok dibawah
rerimbuan bunga bougenville di taman belakang rumah mereka. Kautsar dan ayahnya
duduk berdampingan—menghabiskan waktu berdua di halaman belakang rumah mereka.
Daun-daun besigesek, bergetar perlahan dibelai angin senja.
“Aku selalu sulit
menemukan apa yang baik dari diriku, Ayah. Mengapa seseorang bisa begitu sulit
menemukan yang hebat dari dirinya sementara ia sedang begitu iri pada orang
lain yang selalu beruntung dalam hidup mereka?”
Ayah tersenyum saat
wajah Kautsar tampah mulai murung dan putus asa. Kautsar menopang dagunya
dengan kedua tangannya.
“Pada suatu hari, di
suatu masa, seorang bangsawan Perancis yang tinggal di kota Paris mengumumkan
kepada semua orang bahwa dia begitu membenci Eiffel. Tetapi, anehnya, setiap
hari saat makan siang dan makan malam, dia selalu memilih tempat di sebuah
restoran tepat di bawah menara Eiffel. Sahabat, kolega, dan keluarganya tentu
saja bertanya-tanya, bukankah dia sangat membenci menara Eiffel?”
Kautsar tampak serius
memperhatikan cerita Ayahnya,”Menurutmu, Kautsar, mengapa bangsawan itu selallu
makan siang dan makan malam di restoran yang berada tepat berada di bawah
menara Eiffel?”
Kautsar tambah
berpikir serius. “Mungkin karena di sana ada makanan favoritnya?” tebaknya.
Ayahnya menggeleng
dengan wajah tersenyum.
Kautsar tampak
berpikir sekali lagi, “Mungkin karena suasana di restoran itu begitu indah dan
nyaman?”
Ayahnya sekali lagi
menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Kautsar akhirnya menyerah.
Ayahnya menahan
senyumanya, kemudian menarik napas panjang sebelum meneruskan ceritanya, “Kau
tahu, Kautsar, mengapa bangsawan itu memilih tempat yang justru paling dekat
dengan menara Eiffel, tempat di
bawahnya? Karena itulah satu-satunya tempat di Paris dimana menara
Eiffel tak tampak!”
Kautsar tersenyum
lebar, “Ah, ya! Mengapa tak terpikirkan?” katanya.
“Ya, mengapa tak
terpikirkan?” kata ayahnya sambil tersenyum, “Mengapa tak terpikirkan bahwa
kita begitu sulit menemukan kemampuan terbaik dari diri kita karena terlalu
sering berada di bawahnya? Kadang-kadang kita terus-menerus bersembunyi tepat
di bawah diri kita, sehingga tak mampu siapa diri kita sebenarnya.”
Kautsar
mengangguk-angguk. “Ayah, beritahu aku bagaimana caranya keluar dari dalam diri
kita agar bisa melihat hal hebat dari diri kita yang selama ini tak terlihat?”
“Mungkin kau bisa
menanyakan pada orang lain, apa yang kalian pikir hebat dariku? Dengan terlebih
dahulu menunjukkan sebanyak mungkin apa saja yang kau bisa lakukan. Jangan diam
saja, lakukan apa saja yang kamu bisa. Buat semua orang tahu. Pada gilirannya,
semua orang dan dunia, akan memberitahumu apa yang paling hebar dari dirimu!”
Kautsar tampak begitu
bergairah, matanya berbinar, “Menurut ayah, apa yang hebat dari aku?”
Ayahnya menahan tawa.
Kautsar jadi cemberut. Lalu ayahnya menepuk-tepuk pundak Kautsar, “Setahu ayah,
kamu selalu hebat dalam olahraga. Kamu hebat ketika menggiringi bola dan
membuat gol. Ayah melihatmu saat pertandingan sepak bola dua bulan lalu. Kamu
juga hebat selalu terpilih menjadi pemain inti tim basket sekolah?”
“Oalh raga kadang
dipandang sebelah mata, Ayah.”
“Tidak kalau kamu
menujukkan prestasi yang luar biasa. Dan siapa bilang kamu tak bisa
melakukannya? Sekarang terus berlatih. Kau tahu, Michael Jordan berlatih lima
jam sehari sebelum dia menjadi megabintang NBA. Maradona berlatih ima hari
dalam seminggu sebelum dia kini dikenang sebagai legenda sepakbola. Seperti
mereka, yang mesti kau lakukan adalah menunjukkan apapun yang terbaik yang kamu
bisa.”
Kautsar
menggangguk.”Mulai sekarang, aku tak akan ragu lagiaa bercita-cita menjadi
seorang atlet hebat, Ayah! Aku pikir ayah dan ibu hanya akan bangga kalau aku
berprestasi dalam pelajaran, ternyata selama ini aku keliru.”
Ayahnya tersenyum.
“Tidak, anakku. Ayah dan Ibu akan bangga saat kau bisa mengejar dan mewujudkan
impian dan cita-citamu sendiri, kamu tengah terus-menerus belajar untuk menjadi
dewasa. Pada prinsipnya, semua perjalanan mewujudkan impian, selalu adalah
proses menuju kedewasaan, Kautsar.”
---Kedewasaan
“Kyai, tolong ajarkan
kepadaku ilmu terbaik yang engkau miliki hari ini...” kata Asyura pada Kyai
Husain.
Kyai Husain
membenarkan posisi duduknya, menegakkan punggungnya. Ia terbatuk. “Akan kuingat
kau sebuah pelajaran sederhana hari ini. Bukan dari buku-buku yang tebal, juga
pelajaran bukan dari orang-orang yang tidak kita kenal. Barangkali ini
pelajaran yang sesungguhnya sudah kita ketahui—namun hanya perlu kita panggil
kembali dari kedalaman diri kita masing-masing, Asyura.”
“Apa itu, Kyai?”
Asyura tampak bersemanga.
Kyai Husain mulai
berbicara, “Kedewasaan adalah tercapainya keseimbangan batin dimana akal
pikiran bekerja dengan emosi untuk saling mengontrol dan membenahi proporsinya
satu sama lain. Saat kita harus marah, marahlah, tapi lantas pikirkan baik-baik
bahwa kemarahan bisa merusakkan. Kalau bersedih, menangislah, tapi lantas
pikirkan baik-baik bahwa kesedihan yang panjang hanya akan membuang-buang waktu
dan energi. Kalu berbahagia, tertawalah, tetapi pikirkan baik-baik bahwa saat
kita tertawa berlebihan barangkali tetangga sedang bersedih—kesepian. Kita bisa
melakukan dan memutuskan segala hal sesuai kehendak pikiran kita, tetapi jangan
abaikan perasaan-perasaan; suara-suara yang membisikkan kelembutan dan kepekaan
hati dan nurani masing-masing kita.”
“Ah, indah sekali,
Kyai. Mengapa aku tak menyadarinya selama ini?”
Kyai Husain terkekeh.
“Kadang kita semua melupakan kecerdasan kita sendiri untuk memilih bertindak
bodoh,” kata Kyai Husain.
“Ah, benar sekali, Pak
Kyai. Lantas bagaimanakah seharusnya kita marah, tertawa, menangis, agar tak
berlebihan?”
“Marahlah samapi kita
tahu bahwa kemarahan kita serba berlebihan dan merusakkan, menangislah sampai
kita tahu bahwa pada saatnya kita harus berhenti dan melanjutkan kembali
semuanya, tertawalah sampai menangis. Kadang-kadang kita harus merasakannya
sampai pada batas terjauh. Lakukanlah, puaskan dirimu. Kelak, suatu hari, kita
akan tahu bahwa untuk melakukan semuanya kita tak perlu sejauh itu. Menagislah
saat bersedih, lalu sudah. Marahlah saat kamu marah, lalu sudah. Tertawalah
saat kamu berbahagia, lalu sudah. Hidup sadar adalah saat pikiran dan emosi
kita perlakukan secara adil sesuai dengan daya hidup yang kita miliki dan hidup
yang sedang kita hadapi.”
Asyura
mengangguk-angguk. “Melakukannya hingga batas terjauh, Kyai? Tentu tak boleh
berulang-ulang, bukan? Tentu saja bukan hal yang mudah mengukur sampai sejauh
mana batas kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan itu terpuaskan, Kyai. Lalu
bagaimanakah caranya agar kita dapat memperlakukan emosi dan pikiran kita
secara adil”?
Kyai Husain
membetulkan posisinya surbannya. Ia mengangsurkan tubuhnya agar duduk lebih
dekat ke hadapan Asyura. “Asyura, untuk adil, kita harus tahu batas-batasnya.
Hakim yang adil adalah hakim yang mengetahui batas-batas. Tapi, tentu saja tak
usah sering-sering main-main ke perbatasan terjauh, cukup sesekali. Karena kita
juga akan tahu dengan sendirinya bahwa berjalan, atau berlari, sampai ke
perbatasan terjauh sungguh melelahkan; baik menangis, marah, tertawa, atau
apapun. Pikiran dan perasaan selalu berkehendak melampaui batas: Untuk saling
mengontrol dan membenahi proposinya satu sama lain.”
“Ah, aku sungguh
tercerahkan oleh kata-katamu, Pak Kyai. Jadi apakah proses tarik menarik antara
pikiran dan perasaan dapat menghasil kesadaran?”
“Proses negosiasi
antara pikiran dan perasaanlah yang menghasilkan kesadaran, Asyura. Bukan
tarik-menarik atau intertion, bukan juga interaksi atau interact, tetapi
negosiasi—saling mempengaruhi; kau boleh menyebutnya, interplay.”
“Terakhir, Pak Kyai, apakah
seiring bertambahnya usia seseorang secara otomatis menambah kedewasaannya
juga?”
“Belum tentu, anakku,”
kata Kyai Husain, “Tua dan dewasa adalah dua hal yang berbeda. Menjadi tua
adalah akumulasi sistematis kedewasaan adalah akumulasi sistematis perkembangan
psikologis kita yang bersifat tidak tetap. Benar kata iklan roko itu, Asyura,
menjadi tua itu pasti---menjadi dewasa itu pilihan.”
Asyura tersenyum
lebar. Wajahnya sumringah. “Bolehkah aku memberitahu teman-temanku tentang ilmu
yang sangat bermanfaat ini?”
“Tentu saja, Asyura.
Ilmu ini adalah milikmu, milik kita semua, maka kau boleh memberitahukannya
pada siapa saja.”
---Proses
Hidup terlalu sempurna
untuk sekedar dirayakan. Kalimat itulah yang saya katakan pada diri sendiri
pada Minggu pagi, 22 Agustus 2010, tepat ketika saya berulang tahun ke-24. Saya
melihat istri saya yang sedang berdoa. Khusuk. Lalu mengelus kepala saya
beberapa kali. Menatap saya dalam senyum. Ya, saya merasakanya sekarang; doa
tulus seorang istri bagi suaminya, jauh lebih mulia dan berharga dari pada
hadiah apapun. Konon, menurut riwayat yang saya tahu, Tuhan akan langsung
mendengarkan doanya, menggetarkan atap langit, dan mengirimkan
malaikat-malaikatnya untuk mengarak doa itu menuju singgasana Sang Maha
Mendengar. Langsung dikabulkan? Barangkali kita hanya bisa menduga-duga, tetapi
Tuhan meminta kita berbaik sangka.
Hidup terlalu sempurna
untuk sekedar dimengerti. Ratusan ucapan selamat dan doa berdesakan dalam inbox
SMS, e-mail, Twitter, dan pesan dinding di Facebook saya. Dari orang-orang yang
benar-benar tak saya kenal. Saya membacanya satu per satu, meski tak bisa
menjawab semuanya. Dalam hal saya katakan, terima kasih banyak. Saya
benar-benar terharu. Doa yang datang dari orang-orang yang tak benar-benar saya
kenal dan tak pernah saya temui—terasa benar-benar sebagai doa yang tulus dan
tak meminta balasan apapun. Kebanyakan mereka adalah para pembaca blog dan buku
saya. Saya tak mengerti mengapa mereka tergerak untuk memberi selamat dan
mendoakan saya, tetapi hidup memang bukan soal mengerti atau tidak. Saya hanya
percaya; konon, 40 orang yang berdoa saja sudah cukup menggetarkan langit dan
membuat Tuhan tak kuasa untuk tak mengabulkannya. Kini, saya membaca hampir
500-an doa untuk saya? Apakah Tuhan punya cukup alasan untuk tak
mengabulkannya? Semoga tidak.
Ya, kini saya jadi
yakin, hidup adalah karunia. Kita tak pernah meminta, tetapi kita ‘diberi’.
Betapa banyak yang sudah saya dapatkan selama 24 tahun ini, tanpa saya minta.
Baragkali sesekali saya memang berdoa menginginkan sesuatu, tetapi Hidup
memberikan jauh lebih banyak dari pada saya minta. Bila kalian tak percaya,
bahwa Hidup sudah memberi kita begitu banyak, hitunglah jumlah rambutt di
kepalamu, helai-helai alis matamu, atau titik-titik pori-pori kulitmu. Bila
kita tak sanggup, apalagi menghitung semuanya; segala hal yang ‘pernah’,
‘sedang’, dan ‘akan’ kita dapatkan dari
Hidup.. Ya, hidup terlalu sempurna untuk dihitung!
Kini usia saya 24
tahun. Itu setara dengan 288 bulan, atau 1.253 minggu, atau 8.766 hari, atau
210.470 jam, atau 12.624.439 menit, atau 757.466.347 detik. Semoga usia saya
tak terperangkap dalam jarum arloji. Hitungan waktu hanyalah cermin dari
proses; ada yang sudah kita capai, ada yang belum. Ada yang sudah kita jalani,
ada yang masih kita bayangkan. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Tapi,
sesungguhnya, hidup terlalu sempurna untuk dikalkulasikan.
Kini, di sini aku.
Berdiri. Mengakrabi waktu yang harus terus berlalu, menghitung detik-detik
berguguran. Seraya merapalkan doa-doa, saya meneguhi janji itu sekali lagi:
Jangan lelah berproses!
---Percaya
“Dulu, sama sekali
nggak kebayang kita bakal kayak gini, Fand.” Kata Tito kepadaku. “Dulu
Fade2Black cuma band Hip Hop biasa yang menjual album rekamannya dari tangan ke
tanggan, manggung Cuma dibayar ucapan terima kasih atau nasi bungkus... kita
sama sekali nggak kebayang bakal kayak sekarang. Kita Cuma percaya bahwa kerja
keras nggak akan sia-sia. Ya, kita percaya itu.”
Suasana Coffe Station
malam itu begitu hening, malam begitu bersahabat, dan kami sedang
memperbincangkan bagaimana impian, keyakinan, rasa percaya, dan kerja keras,
bisa membawa kita pada kebahagiaan---
“Lo lihat baju gue,
Fand? Sepatu, topi, semuanya gratis. Dikasih sama sponsor. Ini barang-barang
mahal yang Cuma bisa gue lihat di majalah dipake sama orang lain. Sekarang gue
mendapatkannya gratis karena sponsor suka sama karya kita dan mereka engin kita
jadi brand ambassador-nya.” Arie mulai berkomentar, “Gue bersyukur banget udah
berada di titik ini, tapi ini emang bukan hal yang mudah, kita berjuang kurang
lebih sepuluh tahun buat sampe ke sini,” imbuhnya.
Aku hanya
memperhatikan mereka, tersenyum kagum mendengarkan kisah hebat dari orang-orang
yang begitu luar biasa seperti mereka. Sesekali aku menyesap cokelat panas di
hadapanku, lalu kembali mendengarkan kisah mereka---
“Bener banget Fand.
Kita sama sekali nggak kebayang bisa keliling Indonesia, ke luar negeri,
orang-orang menghormati dan menghargai karya kita, seneng banget! Sebelumnya
kita semua berasal dari keluarga sederhana. Working class. Ini semua bahkan
jauh banget dari apa yang pernah kita impikan tentang Fade 2 Black waktu
pertama kali kita membentuknya.” Eza tak ketinggalan mengungkapkan rasa
syukurnnya.
“Semua memang berubah
saat kita diajak kolaborasi sama Bondan Prakoso, kita makasih banget sama dia,
udah ngajakin kita dalam project Bondan Prakoso & Fade2Black ini.” Timpal
Tito.
Bondan hanya tersenyum
mendengarnya. Dia, pemuda hebat yang begitu rendah hati dan bersahaja, tak
pernah merasa semua sukses ini berkat dirinya sendiri, “Enggak gitu, Bro. Kita
sama-sama berusaha dan bekerja keras. Kita mewujudkannya bareng-bareng.”
Katanya sambil tersenyum.
Aku tersenyum. Semua
yang duduk di meja itu, Tito, Eza, dan Arie, juga tersenyum.
“Ya kan kalian tahu
sendiri,” kata Tito, “Bodan udah jadi musisi besar duluan. Siapa sih yang nggak
tahu Bondan Prakoso? Dia udah jadi artis terkenal sejak kecil. Gue sama Bondan
satu kampus, kita sama-sama kuliah di Sastra Belanda UI, dulu kita Cuma sering sharing soal musik.
Sampai pada suatu hari Bondan ngajakin bikin project bareng. Gue tentu saja
senneng banget. Pas gue kabarin sama anak dua ini,” katanya sambil menunjuk Eza
dan Arie, “Dua-duanya girang banget! Gue tahu gimana mereka loncat-loncat hebih
waktu dapet kabar itu. Sekarang, kita
berempat udah toyor-toyoran, deket banget! Kemana-mana bareng!” ia menutup
ceritanya dengan tawa.
Kami semua tertawa.
Bondan terkekeh,
“Lebay lo ah! Sama aja kok, gue juga berasal dari keluarga sederhana. Working
class, seperti kata Eza. Gue berproses sejak lama. Gue berjuang dari kecil
untuk bisa punya tempat indrustri ini. Sumpah, nggak gampang... tapi kerja
keras emang selalu menunjukkan hasilnya. Bareng Fade 2 Black pun nggak kerasa
udah 5 tahun sejak 2005, awalnya kita Cuma dianggap band biasa aja—malah
mungkin disepelekan, kita baru bener-benenr ngerasain semuanya ‘meledak’ di
tahun ini, di album k3tiga. Meskipun di dua album sebelumnya kita juga pernah
dapet penghargaan-penghargaan, nggak bisa di pungkiri lagu Ya Sudahlah jadi
momentumnya.” Cerita Bondan. “Kalian emang hebat,”kataku, “Bukan Cuma musik
yang bagus, lirik yang bagus, karya yang bagus, kesuksesan juga soal bagaimana
seseorang menjalani dan menjalankan semuanya, kan?”
“Bener banget,” kata
Tito,” Kalo boleh digambarkan, perjalanan kita bisa diwakili sama tiga lagu.
Hidup Berawal dari Mimpi di album Respect, Waktu di album Unity, sama Ya
Sudahlah di album For All. Kita memulai semua ini dari impian, kemudian kita
memperjuangkan dan mempertaruhkan impian itu bersama waktu yang terus
berjalan... terakhir, saat kerja keras sudah dilakukan, kita hanya menunggu
dengan rasa percaya dan cinta; Ya Sudahlah!”
“Ya, Hidup Berawal
dari Mimpi!” kata Bondan sambil tersenyum.
Kemudian Tito
tersenyum. Eza tersenyum. Arie tersenyum. Aku tersenyum. Semua tersenyum. Entah
bagaimana caranya, senyum selalu menular.
---Dinamika
Jalan sedikit tersungkur terjungkir terbalik
Melangkah menuju titik lakukan yang terbaik
Ku tetapkan tekat dan niat agar melesat
Seperti rudal squad mimpiku kan ku dapat
Melangkah menuju titik lakukan yang terbaik
Ku tetapkan tekat dan niat agar melesat
Seperti rudal squad mimpiku kan ku dapat
Mencari tepuk
tangan atas karya keringatku
Bukan satu yang ingin aku tuju
Naik ke atas pentas, agar orang puas
Dapat applause, cek ataupun uang kertas
Bukan satu yang ingin aku tuju
Naik ke atas pentas, agar orang puas
Dapat applause, cek ataupun uang kertas
Cari sensasi ataupun kontroversi
Bukan caraku agar hidupku rekonstruksi
Dari mimpi semua hal dapat terjadi
Maka lemparkan sayap dan terbanglah yang tinggi
Bukan caraku agar hidupku rekonstruksi
Dari mimpi semua hal dapat terjadi
Maka lemparkan sayap dan terbanglah yang tinggi
Tinggalkanlah
gengsi hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
Senang bahagia hingga kelak kau mati
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
Senang bahagia hingga kelak kau mati
Agar semua
terjadi, Hingga
kelak kau mati..
Agar semua terjadi, Hingga kelak kau mati..
Agar semua terjadi, Hingga kelak kau mati..
0 Response to "Hidup Berawal Dari Mimpi (HBDM)"
Posting Komentar