Hidup Berawal Dari Mimpi (HBDM)

---Mimpi
ku jelang matahari dengan segelas teh panas
Di pagi ini ku bebas karna gak ada kelas
Di ruang mata ini kamar ini s
erasa luas
Letih dan lelah juga lambat-lambat terkuras
Teh sudah habis kerongkonganku pun puas
Mulai ku tulis semua kehidupan di kertas
Hari-hari yang keras, kisah cinta yang pedas
Perasaan yang was-was dan gerakku yang terbatas
Tinta yang keluar dari dalam pena
Berirama dengan apa yang ku rasa
Dalam hati ini ingin ku ubah semua
Kehidupan monoton penuh luka putus asa
Tinggalkanlah gengsi hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
Senang bahagia hingga kelak kau mati
---Harapan
Bertahun-tahun kemudian, berpuluh-puluh tahun kemudian, seorang lelaki tua membelai rambut seorang gadis belia yang murung dan putus asa. Cahaya maghrib begitu temaram sementara dingin semakin menyelusup ke pori-pori—sisa hujan sore tadi. Gadis itu menangis di bangku taman beberapa blok tak jauh dari rumahnya. Orang-orang yang sedari tadi lalu lalang menatapnya dengan pandangan iba; seperti, melihat gadi berkerudung merah penjual korek api di malam Natal. Gadis yang cantik, begitu barangkali pikir mereka, mengapa dia menangis? Beberapa orang mendatanginya sejak tadi, menanyakan apakah dia baik-baik saja, apakah ada yang bisa mereka bantu? Tetapi jawab gadis itu, “Terima kasih, kau hanya sedang bersedih dan ingin menangis. Aku baik-baik saja.”
Saaat lelaki tua itu datang beberapa menit kemudian, gadis itu menangis lebih keras lagi. Dia memeluk tubuh lelaki itu dan menumpahkan air matanya di sana.
“Kakek, mengapa aku tak bisa membahagiakan orangtuaku? Mengapa aku selalu gagal dalam segala hal di hidupku? Mengapa aku tak bisa mewujudkan mimpi-mimpiku?”
Lelaki itu mengeratkan pelukannya. Gadis belia merasakan kenyamanan yang merambati perasaannya. “Tidak, cucuku,” kata lelaki tua itu, “Jangan pernah berkata begitu. Barangkali kadang-kadang hidup memang tidak menyenangkan, tetapi jangan padamkan mimpimu. Jangan lelah bermimpi dan berharap. Putus asa hanya kata yang sia-sia.”
--Titik Balik
“Saya memulai semua ini dari bawah,” kata pemilik rumah makan itu, seorang reporter surat kabar kota sedang mewawancarainya, “duapuluh tahun yang lalu, ketika saya masih muda, saya hanya tukang cuci piring di sebuah kedai makanan di Stasiun Kota.”
“Lalu bagaimana Bapak bisa memulai bisnis rumah makan ini? Hingga sekarang menjadi Pengusaha  dengan 16 cabang rumah makan tersebar lima kota berbeda?” reporter itu membetulkan posisi alat perekam yang dibawanya, kemudian mempersilahkan Pak Hasan kembali meneruskan cerita.
“Saya sempat berfikir bahwa saya akan berakhir di ember cucian piring-piring kotor. Waktu itu saya hanya tukang cuci. Pekerjaan saya tukang cuci. Hidup saya tukang cuci.” Mata Pak Hasan tampak menerawang ke masa berpuluh tahun silam, “Hingga majikan mengangkat saya menjadi asistennya. Hidup saya oleng. Saya menjadi bingung pada diri sendiri. Saya tidak percaya. Bagaimana mungkin saya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci harus menghadapi para pembeli  dan memenuhi permintaan-permintaan mereka dengan wewenang yang diberikan manjikan kepada saya? Biasanya saya hanya berhadapan dengan piring-piring, menggosok dan membilas sampai cling, dan sekarang bagaimana saya harus menjalankan tugas lain yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya?”
Reporter muda itu mengangguk-angguk. Ada senyum yang terbit dari wajahnya. Pak Hasan juga tersenyum-masih beresemangat melanjutkan ceita;
“Dua hari setelah diangkat menjadi asisten majikan di warung sayang menghadap untuk mengundurkan diri dan kembali jadi tukang cuci saja. Mengapa? Tanya majikan saya. Saya tidak bisa mengerjakan apapun selain mencuci piring, jawab saya. Di sanalah majikan memarahi saya. Katanya, kalau hari ini kamu tukang cuci piring, bermimpilah besok kamu akan jadi pemilik warung. Kalau kamu sudah menjadi pemilik warung, bermimpilah tentang hal lain yang lebih besar! Sejak saat itu, kesadaran saya tersentak. Lalu saya mulai menananm impian-impian saya sendiri.”
“Bagaimana Bapak bisa berhenti berpikir bahwa nasib bapak hanyalah tukang cuci di warung itu?”
“Majikan saya memutuskan untuk tidak menjual makanannya di tempat. Semua di bungkus. Sejak permintaan pelanggan-pelanggannya semakin meningkat,  majikan saya tidak punya tempat lagi untuk menaruh meeja dan bangku-bangku. Piring-piring tidak digunakan lagi untuk makan di tempat. Saya pun kehilangan piring-piring saya. Sejak saat itu saya mulai percaya bahwa masa depan saya bukan lagi tukang cuci. Maka saya mulai menerima takdir baru sebagai asisten majikan. Selama menjadi asisten, saya belajar banyak hal dari majikan. Yang paling penting adalah soal impian kita saat ini. Saya sendiri tidak percaya saya bisa seperti ini sekarang. Limabelas atau duapuluh tahun yang lalu barangkali saya bermimpi punya memiliki warung sendiri, tetapi kita tak pernah tahu Tuhan punya cara kerja yang berbeda dalam mengeksekusi impian dan harapan-harapan kita.”
---Hasrat
Dunia memang tak selebar daun kelor
Akal dan pikiranku pun tak selamanya kotor
Membuka mata hati demi sebuah cita-cita
Melangkah pasti, pena dan tinta berbicara
Tetapkan pilihan tuk satu kemungkinan
Sebagai bintang hiburan, dan terus melayang
Tak heran ragaku, terbalut label mewah
Cerminan seorang raja dalam cerita Cinderella
Ini bukan mimpi atau halusinasi
Sebuah anugrah yang kan ku nikmati nanti
Hasil kerja kerasku terbayarkan lunas
... tuntas...
Melakoni jati diri sampe puas
Tinggalkanlah gengsi hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
Senang bahagia hingga kelak kau mati
---Utopia
Seorang penyair pernah ditanya soal utopia.”Apa itu utopia?” tanya seseorang kepadanya.
“Utopia adalah sebuah titik, yang ketika kau berada di sebuah horison, titik itu berada sepuluh langkah di hadapanmu,” kata di penyair, “setiap kali mendekatinya sepuluh langkah, titik itu akan menjauh sepuluh langkah. Dan ketika itu selalu menjauh sebanyak langkah yang kau ambil,” lanjut si penyair.
“Lalu, apa pentingnya utopia?” Si penanya terus bertanya.
“Itu tadi, utopia penting untuk dimikili. Agar kau selalu melangkah, dan terus melangkah.”
---Perspektif
“Ayah, mengapa kadang-kadang seseorang begitu sulit mewujudkan mimpi-mimpinya? Mengapa anak-anak ayah yang lai menjadi orang yang berprestasi dan berhasil sementara aku hanya menjadi pelajar biasa dengan nilai-nilai yang tidak terlalu baik? Aku juga ingin membahagiakan ayah dan ibu seperti apa yang dilakukan Kirana, juara lomba ini dan itu. Tapi, mengapa aku tak bisa melakukannya?” tanya Kautsar pada ayahnya.
“Tidak ada yang sulit selama kita mengetahui potensi terbaik yang kita miliki, Kautsar. Kemudian kita serius untuk mengasahkan dan mengolahnya supaya menjadi lebih baik lagi. Lagi dan lagi. Maksud ayah, kita harus terus menerus berusaha. Lalu bersabar dengan setiap prosesnya.”
Kautsar masih mencerna apa yang dikatakan ayahnya. Dia sengaja yang gerimis itu angin berhembus perlahan. Genangan air bekas hujan terserak basah. Ada bangku tembok dibawah rerimbuan bunga bougenville di taman belakang rumah mereka. Kautsar dan ayahnya duduk berdampingan—menghabiskan waktu berdua di halaman belakang rumah mereka. Daun-daun besigesek, bergetar perlahan dibelai angin senja.
“Aku selalu sulit menemukan apa yang baik dari diriku, Ayah. Mengapa seseorang bisa begitu sulit menemukan yang hebat dari dirinya sementara ia sedang begitu iri pada orang lain yang selalu beruntung dalam hidup mereka?”
Ayah tersenyum saat wajah Kautsar tampah mulai murung dan putus asa. Kautsar menopang dagunya dengan kedua tangannya.
“Pada suatu hari, di suatu masa, seorang bangsawan Perancis yang tinggal di kota Paris mengumumkan kepada semua orang bahwa dia begitu membenci Eiffel. Tetapi, anehnya, setiap hari saat makan siang dan makan malam, dia selalu memilih tempat di sebuah restoran tepat di bawah menara Eiffel. Sahabat, kolega, dan keluarganya tentu saja bertanya-tanya, bukankah dia sangat membenci menara Eiffel?”
Kautsar tampak serius memperhatikan cerita Ayahnya,”Menurutmu, Kautsar, mengapa bangsawan itu selallu makan siang dan makan malam di restoran yang berada tepat berada di bawah menara Eiffel?”
Kautsar tambah berpikir serius. “Mungkin karena di sana ada makanan favoritnya?” tebaknya.
Ayahnya menggeleng dengan wajah tersenyum.
Kautsar tampak berpikir sekali lagi, “Mungkin karena suasana di restoran itu begitu indah dan nyaman?”
Ayahnya sekali lagi menggeleng.
“Aku tidak tahu.” Kautsar akhirnya menyerah.
Ayahnya menahan senyumanya, kemudian menarik napas panjang sebelum meneruskan ceritanya, “Kau tahu, Kautsar, mengapa bangsawan itu memilih tempat yang justru paling dekat dengan menara Eiffel, tempat di  bawahnya? Karena itulah satu-satunya tempat di Paris dimana menara Eiffel tak tampak!”
Kautsar tersenyum lebar, “Ah, ya! Mengapa tak terpikirkan?” katanya.
“Ya, mengapa tak terpikirkan?” kata ayahnya sambil tersenyum, “Mengapa tak terpikirkan bahwa kita begitu sulit menemukan kemampuan terbaik dari diri kita karena terlalu sering berada di bawahnya? Kadang-kadang kita terus-menerus bersembunyi tepat di bawah diri kita, sehingga tak mampu siapa diri kita sebenarnya.”
Kautsar mengangguk-angguk. “Ayah, beritahu aku bagaimana caranya keluar dari dalam diri kita agar bisa melihat hal hebat dari diri kita yang selama ini tak terlihat?”
“Mungkin kau bisa menanyakan pada orang lain, apa yang kalian pikir hebat dariku? Dengan terlebih dahulu menunjukkan sebanyak mungkin apa saja yang kau bisa lakukan. Jangan diam saja, lakukan apa saja yang kamu bisa. Buat semua orang tahu. Pada gilirannya, semua orang dan dunia, akan memberitahumu apa yang paling hebar dari dirimu!”
Kautsar tampak begitu bergairah, matanya berbinar, “Menurut ayah, apa yang hebat dari aku?”
Ayahnya menahan tawa. Kautsar jadi cemberut. Lalu ayahnya menepuk-tepuk pundak Kautsar, “Setahu ayah, kamu selalu hebat dalam olahraga. Kamu hebat ketika menggiringi bola dan membuat gol. Ayah melihatmu saat pertandingan sepak bola dua bulan lalu. Kamu juga hebat selalu terpilih menjadi pemain inti tim basket sekolah?”
“Oalh raga kadang dipandang sebelah mata, Ayah.”
“Tidak kalau kamu menujukkan prestasi yang luar biasa. Dan siapa bilang kamu tak bisa melakukannya? Sekarang terus berlatih. Kau tahu, Michael Jordan berlatih lima jam sehari sebelum dia menjadi megabintang NBA. Maradona berlatih ima hari dalam seminggu sebelum dia kini dikenang sebagai legenda sepakbola. Seperti mereka, yang mesti kau lakukan adalah menunjukkan apapun yang terbaik yang kamu bisa.”
Kautsar menggangguk.”Mulai sekarang, aku tak akan ragu lagiaa bercita-cita menjadi seorang atlet hebat, Ayah! Aku pikir ayah dan ibu hanya akan bangga kalau aku berprestasi dalam pelajaran, ternyata selama ini aku keliru.”
Ayahnya tersenyum. “Tidak, anakku. Ayah dan Ibu akan bangga saat kau bisa mengejar dan mewujudkan impian dan cita-citamu sendiri, kamu tengah terus-menerus belajar untuk menjadi dewasa. Pada prinsipnya, semua perjalanan mewujudkan impian, selalu adalah proses menuju kedewasaan, Kautsar.”
---Kedewasaan
“Kyai, tolong ajarkan kepadaku ilmu terbaik yang engkau miliki hari ini...” kata Asyura pada Kyai Husain.
Kyai Husain membenarkan posisi duduknya, menegakkan punggungnya. Ia terbatuk. “Akan kuingat kau sebuah pelajaran sederhana hari ini. Bukan dari buku-buku yang tebal, juga pelajaran bukan dari orang-orang yang tidak kita kenal. Barangkali ini pelajaran yang sesungguhnya sudah kita ketahui—namun hanya perlu kita panggil kembali dari kedalaman diri kita masing-masing, Asyura.”
“Apa itu, Kyai?” Asyura tampak bersemanga.
Kyai Husain mulai berbicara, “Kedewasaan adalah tercapainya keseimbangan batin dimana akal pikiran bekerja dengan emosi untuk saling mengontrol dan membenahi proporsinya satu sama lain. Saat kita harus marah, marahlah, tapi lantas pikirkan baik-baik bahwa kemarahan bisa merusakkan. Kalau bersedih, menangislah, tapi lantas pikirkan baik-baik bahwa kesedihan yang panjang hanya akan membuang-buang waktu dan energi. Kalu berbahagia, tertawalah, tetapi pikirkan baik-baik bahwa saat kita tertawa berlebihan barangkali tetangga sedang bersedih—kesepian. Kita bisa melakukan dan memutuskan segala hal sesuai kehendak pikiran kita, tetapi jangan abaikan perasaan-perasaan; suara-suara yang membisikkan kelembutan dan kepekaan hati dan nurani masing-masing kita.”
“Ah, indah sekali, Kyai. Mengapa aku tak menyadarinya selama ini?”
Kyai Husain terkekeh. “Kadang kita semua melupakan kecerdasan kita sendiri untuk memilih bertindak bodoh,” kata Kyai Husain.
“Ah, benar sekali, Pak Kyai. Lantas bagaimanakah seharusnya kita marah, tertawa, menangis, agar tak berlebihan?”
“Marahlah samapi kita tahu bahwa kemarahan kita serba berlebihan dan merusakkan, menangislah sampai kita tahu bahwa pada saatnya kita harus berhenti dan melanjutkan kembali semuanya, tertawalah sampai menangis. Kadang-kadang kita harus merasakannya sampai pada batas terjauh. Lakukanlah, puaskan dirimu. Kelak, suatu hari, kita akan tahu bahwa untuk melakukan semuanya kita tak perlu sejauh itu. Menagislah saat bersedih, lalu sudah. Marahlah saat kamu marah, lalu sudah. Tertawalah saat kamu berbahagia, lalu sudah. Hidup sadar adalah saat pikiran dan emosi kita perlakukan secara adil sesuai dengan daya hidup yang kita miliki dan hidup yang sedang kita hadapi.”
Asyura mengangguk-angguk. “Melakukannya hingga batas terjauh, Kyai? Tentu tak boleh berulang-ulang, bukan? Tentu saja bukan hal yang mudah mengukur sampai sejauh mana batas kemarahan, kesedihan, dan kebahagiaan itu terpuaskan, Kyai. Lalu bagaimanakah caranya agar kita dapat memperlakukan emosi dan pikiran kita secara adil”?
Kyai Husain membetulkan posisinya surbannya. Ia mengangsurkan tubuhnya agar duduk lebih dekat ke hadapan Asyura. “Asyura, untuk adil, kita harus tahu batas-batasnya. Hakim yang adil adalah hakim yang mengetahui batas-batas. Tapi, tentu saja tak usah sering-sering main-main ke perbatasan terjauh, cukup sesekali. Karena kita juga akan tahu dengan sendirinya bahwa berjalan, atau berlari, sampai ke perbatasan terjauh sungguh melelahkan; baik menangis, marah, tertawa, atau apapun. Pikiran dan perasaan selalu berkehendak melampaui batas: Untuk saling mengontrol dan membenahi proposinya satu sama lain.”
“Ah, aku sungguh tercerahkan oleh kata-katamu, Pak Kyai. Jadi apakah proses tarik menarik antara pikiran dan perasaan dapat menghasil kesadaran?”
“Proses negosiasi antara pikiran dan perasaanlah yang menghasilkan kesadaran, Asyura. Bukan tarik-menarik atau intertion, bukan juga interaksi atau interact, tetapi negosiasi—saling mempengaruhi; kau boleh menyebutnya, interplay.”
“Terakhir, Pak Kyai, apakah seiring bertambahnya usia seseorang secara otomatis menambah kedewasaannya juga?”
“Belum tentu, anakku,” kata Kyai Husain, “Tua dan dewasa adalah dua hal yang berbeda. Menjadi tua adalah akumulasi sistematis kedewasaan adalah akumulasi sistematis perkembangan psikologis kita yang bersifat tidak tetap. Benar kata iklan roko itu, Asyura, menjadi tua itu pasti---menjadi dewasa itu pilihan.”
Asyura tersenyum lebar. Wajahnya sumringah. “Bolehkah aku memberitahu teman-temanku tentang ilmu yang sangat bermanfaat ini?”
“Tentu saja, Asyura. Ilmu ini adalah milikmu, milik kita semua, maka kau boleh memberitahukannya pada siapa saja.”
---Proses
Hidup terlalu sempurna untuk sekedar dirayakan. Kalimat itulah yang saya katakan pada diri sendiri pada Minggu pagi, 22 Agustus 2010, tepat ketika saya berulang tahun ke-24. Saya melihat istri saya yang sedang berdoa. Khusuk. Lalu mengelus kepala saya beberapa kali. Menatap saya dalam senyum. Ya, saya merasakanya sekarang; doa tulus seorang istri bagi suaminya, jauh lebih mulia dan berharga dari pada hadiah apapun. Konon, menurut riwayat yang saya tahu, Tuhan akan langsung mendengarkan doanya, menggetarkan atap langit, dan mengirimkan malaikat-malaikatnya untuk mengarak doa itu menuju singgasana Sang Maha Mendengar. Langsung dikabulkan? Barangkali kita hanya bisa menduga-duga, tetapi Tuhan meminta kita berbaik sangka.
Hidup terlalu sempurna untuk sekedar dimengerti. Ratusan ucapan selamat dan doa berdesakan dalam inbox SMS, e-mail, Twitter, dan pesan dinding di Facebook saya. Dari orang-orang yang benar-benar tak saya kenal. Saya membacanya satu per satu, meski tak bisa menjawab semuanya. Dalam hal saya katakan, terima kasih banyak. Saya benar-benar terharu. Doa yang datang dari orang-orang yang tak benar-benar saya kenal dan tak pernah saya temui—terasa benar-benar sebagai doa yang tulus dan tak meminta balasan apapun. Kebanyakan mereka adalah para pembaca blog dan buku saya. Saya tak mengerti mengapa mereka tergerak untuk memberi selamat dan mendoakan saya, tetapi hidup memang bukan soal mengerti atau tidak. Saya hanya percaya; konon, 40 orang yang berdoa saja sudah cukup menggetarkan langit dan membuat Tuhan tak kuasa untuk tak mengabulkannya. Kini, saya membaca hampir 500-an doa untuk saya? Apakah Tuhan punya cukup alasan untuk tak mengabulkannya? Semoga tidak.
Ya, kini saya jadi yakin, hidup adalah karunia. Kita tak pernah meminta, tetapi kita ‘diberi’. Betapa banyak yang sudah saya dapatkan selama 24 tahun ini, tanpa saya minta. Baragkali sesekali saya memang berdoa menginginkan sesuatu, tetapi Hidup memberikan jauh lebih banyak dari pada saya minta. Bila kalian tak percaya, bahwa Hidup sudah memberi kita begitu banyak, hitunglah jumlah rambutt di kepalamu, helai-helai alis matamu, atau titik-titik pori-pori kulitmu. Bila kita tak sanggup, apalagi menghitung semuanya; segala hal yang ‘pernah’, ‘sedang’,  dan ‘akan’ kita dapatkan dari Hidup.. Ya, hidup terlalu sempurna untuk dihitung!
Kini usia saya 24 tahun. Itu setara dengan 288 bulan, atau 1.253 minggu, atau 8.766 hari, atau 210.470 jam, atau 12.624.439 menit, atau 757.466.347 detik. Semoga usia saya tak terperangkap dalam jarum arloji. Hitungan waktu hanyalah cermin dari proses; ada yang sudah kita capai, ada yang belum. Ada yang sudah kita jalani, ada yang masih kita bayangkan. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Tapi, sesungguhnya, hidup terlalu sempurna untuk dikalkulasikan.
Kini, di sini aku. Berdiri. Mengakrabi waktu yang harus terus berlalu, menghitung detik-detik berguguran. Seraya merapalkan doa-doa, saya meneguhi janji itu sekali lagi: Jangan lelah berproses!
---Percaya
“Dulu, sama sekali nggak kebayang kita bakal kayak gini, Fand.” Kata Tito kepadaku. “Dulu Fade2Black cuma band Hip Hop biasa yang menjual album rekamannya dari tangan ke tanggan, manggung Cuma dibayar ucapan terima kasih atau nasi bungkus... kita sama sekali nggak kebayang bakal kayak sekarang. Kita Cuma percaya bahwa kerja keras nggak akan sia-sia. Ya, kita percaya itu.”
Suasana Coffe Station malam itu begitu hening, malam begitu bersahabat, dan kami sedang memperbincangkan bagaimana impian, keyakinan, rasa percaya, dan kerja keras, bisa membawa kita pada kebahagiaan---
“Lo lihat baju gue, Fand? Sepatu, topi, semuanya gratis. Dikasih sama sponsor. Ini barang-barang mahal yang Cuma bisa gue lihat di majalah dipake sama orang lain. Sekarang gue mendapatkannya gratis karena sponsor suka sama karya kita dan mereka engin kita jadi brand ambassador-nya.” Arie mulai berkomentar, “Gue bersyukur banget udah berada di titik ini, tapi ini emang bukan hal yang mudah, kita berjuang kurang lebih sepuluh tahun buat sampe ke sini,” imbuhnya.
Aku hanya memperhatikan mereka, tersenyum kagum mendengarkan kisah hebat dari orang-orang yang begitu luar biasa seperti mereka. Sesekali aku menyesap cokelat panas di hadapanku, lalu kembali mendengarkan kisah mereka---
“Bener banget Fand. Kita sama sekali nggak kebayang bisa keliling Indonesia, ke luar negeri, orang-orang menghormati dan menghargai karya kita, seneng banget! Sebelumnya kita semua berasal dari keluarga sederhana. Working class. Ini semua bahkan jauh banget dari apa yang pernah kita impikan tentang Fade 2 Black waktu pertama kali kita membentuknya.” Eza tak ketinggalan mengungkapkan rasa syukurnnya.
“Semua memang berubah saat kita diajak kolaborasi sama Bondan Prakoso, kita makasih banget sama dia, udah ngajakin kita dalam project Bondan Prakoso & Fade2Black ini.” Timpal Tito.
Bondan hanya tersenyum mendengarnya. Dia, pemuda hebat yang begitu rendah hati dan bersahaja, tak pernah merasa semua sukses ini berkat dirinya sendiri, “Enggak gitu, Bro. Kita sama-sama berusaha dan bekerja keras. Kita mewujudkannya bareng-bareng.” Katanya sambil tersenyum.
Aku tersenyum. Semua yang duduk di meja itu, Tito, Eza, dan Arie, juga tersenyum.
“Ya kan kalian tahu sendiri,” kata Tito, “Bodan udah jadi musisi besar duluan. Siapa sih yang nggak tahu Bondan Prakoso? Dia udah jadi artis terkenal sejak kecil. Gue sama Bondan satu kampus, kita sama-sama kuliah di Sastra Belanda UI,  dulu kita Cuma sering sharing soal musik. Sampai pada suatu hari Bondan ngajakin bikin project bareng. Gue tentu saja senneng banget. Pas gue kabarin sama anak dua ini,” katanya sambil menunjuk Eza dan Arie, “Dua-duanya girang banget! Gue tahu gimana mereka loncat-loncat hebih waktu dapet kabar itu.  Sekarang, kita berempat udah toyor-toyoran, deket banget! Kemana-mana bareng!” ia menutup ceritanya dengan tawa.
Kami semua tertawa.
Bondan terkekeh, “Lebay lo ah! Sama aja kok, gue juga berasal dari keluarga sederhana. Working class, seperti kata Eza. Gue berproses sejak lama. Gue berjuang dari kecil untuk bisa punya tempat indrustri ini. Sumpah, nggak gampang... tapi kerja keras emang selalu menunjukkan hasilnya. Bareng Fade 2 Black pun nggak kerasa udah 5 tahun sejak 2005, awalnya kita Cuma dianggap band biasa aja—malah mungkin disepelekan, kita baru bener-benenr ngerasain semuanya ‘meledak’ di tahun ini, di album k3tiga. Meskipun di dua album sebelumnya kita juga pernah dapet penghargaan-penghargaan, nggak bisa di pungkiri lagu Ya Sudahlah jadi momentumnya.” Cerita Bondan. “Kalian emang hebat,”kataku, “Bukan Cuma musik yang bagus, lirik yang bagus, karya yang bagus, kesuksesan juga soal bagaimana seseorang menjalani dan menjalankan semuanya, kan?”
“Bener banget,” kata Tito,” Kalo boleh digambarkan, perjalanan kita bisa diwakili sama tiga lagu. Hidup Berawal dari Mimpi di album Respect, Waktu di album Unity, sama Ya Sudahlah di album For All. Kita memulai semua ini dari impian, kemudian kita memperjuangkan dan mempertaruhkan impian itu bersama waktu yang terus berjalan... terakhir, saat kerja keras sudah dilakukan, kita hanya menunggu dengan rasa percaya dan cinta; Ya Sudahlah!”
“Ya, Hidup Berawal dari Mimpi!” kata Bondan sambil tersenyum.
Kemudian Tito tersenyum. Eza tersenyum. Arie tersenyum. Aku tersenyum. Semua tersenyum. Entah bagaimana caranya, senyum selalu menular.
---Dinamika
Jalan sedikit tersungkur terjungkir terbalik
Melangkah menuju titik lakukan yang terbaik
Ku tetapkan tekat dan niat agar melesat
Seperti rudal squad mimpiku kan ku dapat
Mencari tepuk tangan atas karya keringatku
Bukan satu yang ingin aku tuju
Naik ke atas pentas, agar orang puas
Dapat applause, cek ataupun uang kertas
Cari sensasi ataupun kontroversi
Bukan caraku agar hidupku rekonstruksi
Dari mimpi semua hal dapat terjadi
Maka lemparkan sayap dan terbanglah yang tinggi
Tinggalkanlah gengsi hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli tuk ironi tragedi
Senang bahagia hingga kelak kau mati
Agar semua terjadi, Hingga kelak kau mati..
Agar semua terjadi
, Hingga kelak kau mati..

0 Response to "Hidup Berawal Dari Mimpi (HBDM)"

Posting Komentar