U'll Sorry ☺

Ini Cuma soal waktu, bisik Teguh pada dirinya. Lelaki itu memandang angka yang berderet di rekeningnya dengan sumringah. Sejak memutuskan menjual montor kesayangannya dan memulai mendirikan jasa kurir lima tahun yang lalu, sekarang dia mulai menikmati hasilnya. Sebagai pengusaha muda, dia hampir memiliki apapun yang lima tahun yang lalu hanya dibayangkan sebagai mimpi. Sebuah ruko di kawasan cukup strategis di Jakarta, rumah pribadi, mobil pribadi, rekening yang cukup gendut tersimpan aman di bank, beberapa kertas piutang yang tinggal menunggu waktu untuk dicairkan, beberapa anak buah yang kapanpun bisa dia perintahkan untuk sekedar memijat punggungnya yang pegal atau mengambilkan sesuatu yang dia butuhkan. “Teguh Iman Santosa” dia membaca judul besar sampul tabloid Wirausaha terbitan bulan lalu yang dipajang di dinding ruangannya, “Memulai bisnis dari Nol!” Di sampul tabloid yang dia bingkai rapi itu, terpampang foto dirinya dengan pakaian rapi dan berdasi, senyumnya lebar, tangan kanannya mengacungkan jempol. Lalu dia tertawa sendiri—dengan suara yang keras dan perasaan yang puas. Dia seolah ingin menertawakan nasibnya di masa lalu, semacam dendam yang tertahan dan ingin dia tuntaskan. Sekitar lima tahun yang lalu Teguh bukan siapa-siapa. Teguh hanya sarjana ekonomi lulusan sebuah universitas swasta di Bandung yang seperti—sarjana-sarjana medioker lainnya—begitu sulit mendapatkan pekerjaan. Berbekal montor buntut kesayangan, satu-satunya hadiah dari orangtuanya sebelum dia diultimatum untuk mecari makan sendiri, Teguh menyusuri jalanan-jalanan kota Bandung menawarkan beberapa lembar CV dan surat lamaran kerja. Jika senja telah tiba, dan dia pulang dengan rasa kecewa di dada karena hampir semua tempat kerja yang ia datangi menolaknya, dia singgah di sebuah warung nasi depan rumah kosnya. Berbasa-basi kepada bapak penjaga warung, membuat tentang proyek besar yang sedang dia kerjakan, lalu berusaha berutang lagi. “Kasbon terus!” sindir Bapak penjaga warung. “Jangan gitu, dong, Pak. Tadi saya lupa ke ATM!” bualnya. “Kemarin salah pakai celana dan dompetnya di celana yang satu lagi, sekarang lupa ke ATM. Besok apa lagi?” Bapak penjaga warung mulai kesal dengan alasan-alasan Teguh. “Ini serius, Pak. Besok proyek saya pasti cair uangnya. Besok pasti saya bayar semua, sekalian saya kasih bonus buat Bapak!” gayanya selangit. Begitu meyakinkan sehingga Bapak penjaga warung bersedia memberinya hutangan lagi. Teguh tersenyum senang. Dia menang. Tanpa menunggu lama ia segera melahap makanan yang telah tersedia di hadapannya. Teguh mengenang masa-masa itu dengan senyum puas. Dia tertawa sinis pada waktu, nasib suramnya di masa lalu. Kini, pikirnya dalam hati, ia bisa membuat puluhan warung makan itu untuk dilayani sebagai raja. Ini Cuma soal waktu, katanya sekali lagi. “Agus!” Teguh berteriak memanggil pesuruhnya di kantor. Agus terngopoh-ngopoh menghampiri teguh di ruangan pribadinya. “Iya, Bos? Ada apa Bos?” Agus yang berperawakan lebih besar dari Teguh menghadap bosnya dengan wajah yang siap siaga. Teguh tersenyum puas, “Bikinin aku kopi dan belikan aku rokok,” perintahnya jelas. “Siap, Bos!” Teguh menyorongkan selembar uang lima puluh ribu, “Kembaliannya buat elu!” Agus tersenyum lebar, “Siap Bos!” katanya, “Makasih banyak Bos!” Teguh mengangguk-angguk. Setelah Agus pergi meninggalkan ruangannya, Teguh membetulkan posisi duduk. Dia memeriksa beberapa berkas laporan performa perusahaan yang beberapa jam lalu dilaporkan sekretarisnya. Berdasarkan rapat manajemen pagi tadi, seluruh manajernya merekomendasikan agar perusahaan jasa kurir miliknya membuka cabang baru di Bandung. “Kita sudah jadi raja di Jakarta,” kata Iwan, manajer operasional, dalam rapat manajemen pagi tadi, “Saatnya ekspansi ke Bandung, Bos! Kalau Bos setuju, dalam waktu dekat segera kita eksekusi pembukaan cabang di sana.” Dia membolak-balik sebuah proposal pembukaan cabang baru di kota yang begitu akrab dalam ingatannya: Bandung. Kota itu bukan tempat bertumbuh—begitu banyak kenangan yang dia tinggalkan di sana. Yang baik dan yang buruk. Pagi tadi dia belum memutuskan apakah dia setuju membuka cabang baru di Bandung atau tidak, masih ada yang mengganjal dalam pikirannya. Sebuah nama yang begitu ia ingat: Susi. *** Ia teringat perempuan itu, mantan kekasih yang lima tahun yang lalu telah mencampakkan dan mejejakkan lukan dalam hatinya. Mereka berpacaran sejak mahasiswa dan berjanji sehidup semati—Teguh sangat mencintai susi, begitu juga sebaliknya. Tetapi setelah keduanya sama-sama diwisuda dan menjadi sarjana, Susi segera mendapatkan pekerjaan di salah satu bank perkreditan rakyat sementara Teguh tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Sejak itu, setiap kali mereka kencan, Susi yang mentraktir. Bahkan kadang-kadang memberi uang bensin. Sejak menjadi sarjana, Teguh belum juga punya pekerjaan tetap sementara orangtuanya telah memutuskan untuk tak mengirimkan uang apapun lagi. Akhirnya Teguh hanya mengandalkan jasa desain amatiran yang tak datang setiap hari. Bahkan kalau sedang terdesak, Teguh terpaksa meminjam uang dari Susi. Sebulan-dua bulan mereka masih romantis dan Susi masih bersedia menanggung biaya operasional hubungan mereka. Tetapi di bulan ketiga, hubungan mereka mulai terganggu. Teguh tak juga dapat kerja, sementara Susi merasa tak sanggup lagi meneruskan hubungan mereka jika Teguh terus-menerus menganggur. “Aku udah nggak tahan lagi sama kamu!” kata Susi suatu ketika. Teguh hanya diam, ia sadar posisinya serba salah. “kamu laki-laki yang nggak bisa diandalkan! Aku nggak yakin masa depanku sama kamu akan baik-baik saja!” nada Susi mulai berubah, meninggi. “Ini Cuma soal waktu,” Teguh berusaha meyakinkan Susi, “Barangkali sekarang aku memang lagi susah, tapi aku terus berusaha. Ini Cuma soal waktu!” “Aku bosan menunggu!” kata Susi, “Aku bosan berharap pada orang dengan masa nggak jelas kayak kamu! Lebih baik kita putus dan kita nggak usah ketemu lagi!” Teguh sama sekali tak menyangka kekasihnya akan sanggup mengatakan semua itu. Kemana Susi yang selama ini begitu mencintainya? Kemana Susi yang begitu pengertian? “Tapi, kita sudah berjanji sehidup-semati! Kamu juga sudah janji mau jadi ibu untuk anak-anakku!” Teguh berusaha mengingatkan janji mereka berdua di bawah pohon kersen di belakang kampus—saat beranjak senjak. “Persetan dengan semua itu!” bentak Susi,” Terus kamu mau ngasih makan aku pake apa? Pake cinta? Pake batu? Heh?” Teguh tak bisa berkata apa-apa lagi. Kenyataannya dia memang tengah terpuruk soal keuangan. Tetapi, mengapa Susi begitu cepat berubah? Bukankah dulu dia berjanji meskipun dalam kondisi tersulit sekalipun mereka tak akan berpisah? “Aku memang sedang sulit,” suara Teguh daftar, “Tetapi ini Cuma soal waktu, aku yakin itu. Aku heran kenapa kamu berubah drastis seperti ini? Bukankah kamu selalu bilang kita akan selalu bersama dalam kondisi terburuk apapun? Kalau kamu keberatan mengeluarkan uang saat kita bertemu, kamu tak perlu. Kita tak usah bertemu di mal atau tempat makan mewah, kan? Bukankah dulu juga kita biasa mengobrol di taman atau jajan di pinggir jalan? Aku juga tak pernah memintamu mengeluarkan uang untukku. Kalau kamu nggak mau dan keberatan, aku tak apa-apa.” Teguh berusaha mempertahankan hubungan mereka. “Kamu nggak mikir, ya? Apa kata temen-temen kerjaku kalau lihat aku jajan di pinggir jalan? Apa kata mereka kalau tahu aku pacaran di taman? Sama orang lusuh kayak kamu? Huh!” nada Susi terdengar sinis. Deg! Tiba-tiba Teguh merasa sudah tahu apa alasan Susi sesungguhnya dari semua perbincangan ini. Begitu sakit dia mendengarnya. Teguh tak pernah menyangka Susi akan berubah seperti ini. “Aku mau kita udahan!” Susi tiba-tiba memutuskan. “Titik!” Lalu perempuan itu pergi meninggalkan Teguh. Di ujung jalan, Teguh melihat Susi menyetop taksi. Perempuan itu terburu-buru membuka pintu dan segera meninggalkan Teguh yang tak diberi kesempatan untuk berkata-kata lagi. Aku tak tahu harus berkata apa Kau tinggalkan diriku di dalam asa Jika waktu yang berputar tak kembali Lagi, ini jadi satu ironi Dan mengapa kau lelah dalam langkah Resah, gelisah, menyerah, sudahlah... sudah, tak perlu banyak rima Ini bukan pertama ku rasa hal yang sama Shakespeare menangis, dalam sudut kecewa Dewi cinta terjatuh merana dalam luka Terkubur dalam detik yang berputar Bercampur dengan udara, yang tak terdengar Tak hanya cewek yang ingin dimengerti Bukan hanya cowok yang ingin dicintai Jika waktu yang berputar tak kembali Apa arti sayang bila sudah tak berarti Seminggu, dua minggu, sebulan, sejak keajadian itu mereka tak pernah bertemu lagi. Teguh berusaha menghubungi Susi tetapi tak pernah bisa. Teguh mendatangi rumah kos Susi tetapi ternyata sudah pindah. Teguh berusaha menelpon ke rumah Susi di Bekasi tetapi keluarganya tak memberikan sedikitpun informasi. “Ini siapa? Teguh?” seorang Ibu di balik telepon, “Susi nggak ada! Jangan menghubungi ke sini lagi. Susi sudah nggak mau lagi berhubungan sama kamu!” Baru di bulan kedua, teguh tahu semuanya, mengapa Susi begitu cepat berubah dan begitu tega mencapakannya. Seorang teman memperlihatkan selembar undangan pernikahan yang memuat nama mantan kekasihnya itu: Susi Lestari. Perempuan itu ternyata memutuskan menikah dengan atasan di tempatnya berkerja. Pria yang barangkali memang lebih mapan, lebih sejahtera, dan menjanjikan hidup yang bahagia—manajer sebuah bank perkreditan rakyat di tempat Susi bekerja. Lamat-lamat dia mendengar suara itu dalam ingatannya, suara Susi, mantan kekasihnya, “Kamu laki-laki yang nggak bisa di andalkan! Soal masa depan, aku nggak bisa berharap apa-apa dari laki-laki seperti kamu! Sementara banyak orang lain yang menawarkan masa depan lebih baik kepadaku! Lebih baik kita putus, udahan sampai di sini!” Ada sesak di dadanya, tiba-tiba tertahan. Cinta yang gagal percaya pada dirinya sendiri. Mengumpulkan kekuatan asing yang tiba-tiba menampar harga dirinya, menggali lubang nyeri di hatinya. Ini soal waktu, kata Teguh dalam hati, suatu saat kamu akan tahu! *** Teguh menghela napas panjang. Apa kabar Susi sekarang? Tanyanya dalam hati. Dua tahun yang lalu seorang teman yang menemuinya di Jakarta menceritakan bahwa Susi kini telah dikaruniai seorang anak perempuan. Tetapi dia telah menjadi janda. Suaminya menduakannya dengan perempuan lain dan Susi tak terima. Dia memilih bercerai dan menjadi orangtua tunggal bagi anak perempuannya. Konon, dia masih tinggal di Bnadung dan berhenti dari pekerjaanya yang lama. Tapi, apa kabar Susi sekarang? Pertanyaan itu masih tersisa. Teguh menganggkat telepon di ruang kerjanya, lalu menekan beberapa nomor, “Halo, Iwan?” Teguh Mulai bicara, suara di seberang telepon menjawab sopan dan meyakinkan. “Kita jadi buka cabang di Bandung!” sambung Teguh, pendek. Suara di seberang telepon mengungkapnya kesiapannya tetapi dia bertanya-tnya mengapa Teguh menjadi begitu bersemangat? “Jangan banyak bicara. Pokoknya segera urus!” Teguh tak mau membagi alasannya, “Kalau cabang baru itu sudah siap beroperasi, saya akan berkantor di Bandung!” Teguh menutup teleponnya. Ia tersenyum lebar. Ia tahu Bandung kini telah menjadi lautan alamat, bukan lagi lautan api, tetapi dia hanya tertarik pada satu alamat: Susi. Hanya satu hal yang ingin dia katakan kepada perempuan itu: ini Cuma soal waktu dan seharusnya kamu menunggu! *** Teguh beranjak dari tempat duduk. Dia segera meninggalkan ruangannya. Agus sedang mengaduk kopi di sudut ruangan, Teguh melirih arahnya. Agus tersenyum, “Ini kopinya, Bos. Sebentar lagi.” “Buat elu aja!” jawab Teguh. Seorang laki-laki bertubuh tagap membukakan pintu bagi tuannya sambil membungkukkan badan dan tersenyum. Teguh membalasnya dengan menganggukkan kepala. Di luar, sebuah mobil mewah miliknya terpakir dan dia berjalan mendekatinya. Ini Cuma soal waktu, kata Teguh dalam hati, seharusnya dia menunggu! Di kilometer pertama, teguh memacu mobilnya dengan seluruh perasaan bangga di dalamnya. Sebuah lagu, U’LL Sorry, mengalun memanjakan lekuk daun telingganya... telah kuberikan smua kasih dan cintaku namun kau lepas aku... pastikan dirimu, kau akan sesali, you'll be sorry you'll be sorry...you'll be sorry... Aku terpejam dan coba rasakan lagi Saat waktu jadi sahabat yang berarti... Kita saling berbagi, saling mengerti, saling memuja, saling cinta, saling coba memahami. Ada beda, ada ragu, ada hati, ada cumbu, ada rayu yang kini telah lalu Kau kini, jalani waktu jalani hari... Baby please, I know some day u'll be sorry... telah kuberikan smua kasih dan cintaku namun kau lepas aku... pastikan dirimu, kau akan sesali, you'll be sorry you'll be sorry...you'll be sorry...

0 Response to "U'll Sorry ☺"

Posting Komentar