Ku tak kan
mampu berdiri
'tuk Raih
semua mimpi…
tanpa Cahya
Cinta Sejati
Ku tak kan
jelang hari…
'Tuk gapai
semua hati…
Tanpa Cahya
Cinta Sejati
Aku terpaku
menatap hujan di luar jendela. Angin bertiup kencang menerobos tingkap-tingkap
kaca. Perasaan itu datang lagi, seperti
biasa. Pelan-pelan aku berbisik, "Sagala nyawa, layang ka sampurna."
Aku merpal mantra itu berkali-kali, seperti
satu-satunya obat yang harus kutelan untuk melupakan kesedihan yang
berkepanjangan; semuanya memang akan mati--pergi menuju kesempurnaana-an...
Setiap kali
hujan turun di pertengahan Desember, ada episode hidup sulit sekali
kulupakan--bahkan tak mungkin. Aku seperti
terus-menerus dibayang-bayangi rasa bersalah. Tentang yang baik, betapa
mudah kita melupakannya. Tetapi segala yang buruk, kenapa begitu sulit? Termasuk rasa bersalah.
Jangan
pergi, temani ibu disini. Aku ingat betul kata-kata ibu padaku 10 tahun yang
lalu.
Gerimis
mulai mendarat di permukaan Batunungku, kampung kering yang setiap kali hujan
turun disambut seperti tuah dari langit.
Orang-orang gembira bukan kepalang, semua wadah dikeluarkan, air ditadah.
Anak-anak menari hujan. Orang-orang dewasa
berkumpul merayakan rasa syukur. Di kampung kami yang sulit air, tidak
seperti di tempat-tempat lain, musim hujan adalah berkah yang harus dirayakan!
Jangan
pergi, temani ibu disini. Aku ingat betul kata-kata ibu padaku 10 tahun yang
lalu, ketika hujan pertama turun di
Batunungku setelah musim kemarau yang panjang, katiga. Ya, katiga,
begitu kami menyebutya, adalah musim kering yang menyengsarakan. Kami benar-benar harus menghemat
air, bahkan untuk minum sehari-hari. Sungai-sungai kering, sawah-sawah kering, dan air menjadi barang yang mahal di
kampung kami.
Kami harus
mengambil air ke gunung, berjalan sekitar 10km melewati jalan terjal yang
berliku. Melewati bebukitan. Kalaupun
ada bantuan air dari pemerintah, barang kali hanya sekali-dua dalam satu
tahun. Itu pun belum tentu semua keluarga mendapat jatah. Maka, setiap kali hujan mulai turun di
bulan November atau Desember, kami gembira luar biasa.
Jangan
pergi, temani ibu disini. Aku ingat betul kata-kata ibu padaku 10 tahun yang
lalu, ketika hujan pertama di tahun 1992
mengguyur Batunungku.
Badri,
Jaya, Maman, Ujang, dan teman-temanku yang lain sudah memanggil dari luar
rumah, mengajakku merayakan hujan. Semacam
ritual wajib, kami merayakan hujan dengan mandi sepuasnya, menari,
bermain lumpur, atau apa saja.
"Tapi,
Bu, aku harus pergi," desakku, "teman-teman sudah menunggu."
Ibu terdiam
sejenak. "Hujannya terlalu deras, Nak. Di rumah saja. Ibu khawatir."
Tersirat di wajahnya kekhawatiran khas
seorang ibu pada anknya. Kekhawatiran ibu kali ini memang berlebihan,
tak seperti biasannya, tetapi aku abaikan. Aku harus pergi, kataku dalam hati, apa kata
teman-teman nanti kalau aku tak ikut?
"Mainya
tidak jauh, Bu! Hanya disekitar kampung." Aku mulai melakukan penolakan,
seraya segera bergegeas ke arah pintu.
Dimuka
pintu, seolah ada yang tertahan. Aku menghentikan langkah. Sejenak, sebelum
pergi, aku menengok kearah ibuku seolah- olah ingin menyakinkan padanya bahwa
aku akan baik-baik saja. Aku membaca ketidakrelaan di matanya. Tetapi, Bu, aku
bukan anak kecil lagi, kataku dalam
hati, aku akan baik-baik saja.
Aku
tersenyum kepada ibu, lalu pergi.
"Jangan
terlalu jauh! Pesan ibuku, setegah berteriak. Ibu membalas senyumku dengan
terpaksa.
Aku
membanting pintu. Menjejakkan kakiku di tanah yang basah. Menari gembira.
***
Aku menemui
teman-teman. Kami akan merayakan hujan dengan pergi ke bukit; balap lari,
bernyanyi, tertawa sepuasnya. Kami
menantang hujan; menengadah ke langit, membiarkan wajah diterpa deras
air hujan, lalu berteriak sekencang- kencangnya..."Hoooooyyy!!!!"
Jangan
pergi, temani ibu disini. Aku ingat betul kata-kata ibu padaku 10 tahun yang
lalu. Ibuku seorang janda. Ayah meninggal
ketika aku berusia 4 tahun karena diare. Kami berasal dari keluarga
miskin, ayah tak punya cukup biaya untuk ke dokter atau Rumah Sakit. Hanya ke puskesmas. Itupun
jarang sekali karena cukup jauh di Haurbeuti--sekitar 25 km dari Batunungku.
Sepeninggal
ayah, untuk menghidupi dirinya dan aku, ibu bekerja sebagai penumbuk kopi. Dia
perempuan yang tangguh. Dia kuat berjam-jam
menumbuk kopi dengan halu. Aku tak kuat. Padahal aku laki-laki dan usiaku sudah
14.
Hujan
pertama di Batunungku pada tahun 1992 memang tak seperti hujan yang turun pada
tahun-tahun sebelumnya. Semakin lama,
semakin deras. Angin bertiup kencang sekali. Pohon-pohon dibuat miring.
Genting-genting berderak. Kilat menyambar-nyambar. Petir menggeleggar. Orang-orang mulai
berlindung kerumah masing-masing.
Menyadari
bahwa sebentar lagi akan terjadi badai, aku dan teman-teman mendadak panik.
Tapi kita sudah cukup jauh dari
Batunungku. Kami terjebak ditengah badai. Tanpa terasa kami sudah
berjalan melewati dua kampung, Dan celakanya, kini kami berada di tengah badai!
***
Benar
firasat ibu, seharusnya aku dirumah saja, kataku dalam hati dengan sedikit
penyesalan. Tapi aku sudah besar, aku akan
baik-baik saja. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri.
"Ayo
kita berteduh di masjid!" kata Ujang.
Dia benar,
tak ada pilihan lain. Kami harus segera berlindung. Dari dalam masjid. Kami
saksikan hujan yang tak patut lagi
dirayakan dengan pesta dan tarian. Anginnya terlalu kencang. Pohon-pohon
tumbang. Orang-orangpanik menjaga kekokohan atap rumah masing-masing. Seng-seng berterbangan.
Genting-genting berderak, bahkan genting masjid. Air meninggi semata kaki. Seorang lelaki tua mengumandangkan azan.
Lirih.
...hayya 'alash-shalah
hayya 'alash-shalah
hayya 'alash-falah
hayya 'alash-falah...
Suara azan
menyelinap di sela-sela deras hujan.
Kami
ketakutan menyaksikan hujan berubah mengerikan. Ini kali pertama kami mengalami
sepanjang hidup. kami kedinginan, baju
kami basah kuyup. Maman mulai menangis. Meskipun selalu ingin dianggap
sudah dewasa, sesungguhnya kami masih kanak-kanak. Badri, yang tertua di antara kami, masih
berusia 15 tahun. Dia berusaha menenangkan, "Kita berdoa saja,"
ajaknya. Kami pun menurut. Lalu
masing-masing merapal doa, apapun yang kami tahu.
Tiba-tiba
aku teringat ibu. Aku menyesal tak mendengarkan nasihatnya.
***
Dari
kejauhan, seorang lelaki berpenampilan aneh menari di tengah hujan. Kami
melihat lelaki itu berjingkrak-jingkrak.
"Nu
Gelo, nu gelo!" kata Jaya sambil menujuk ke arah orang itu.
Lalu,
seolah mendengar apa yang baru saja diteriakan Jaya,tiba-tiba lelaki itu
berhenti. Terpaku berdiri, dia menoleh ke arah
kami, Sangat lama. Kami jadi ketakutan.
"Hooy,
Sagala nyawa, layang ka sampurna!" lelaki itu tiba-tiba berteriak. kalimat
yang asing. Kami tak mengerti apa yang dia
ucapkan.
Kami sangat
ketakutan. Kami saling berpegangan.
Tiba-tiba
lelaki itu memandang kearahku. Ya, tepat ke arhku. "Hooy, Sagala nyawa,
layang ka sampurna!" katanya sekali lagi.
Kalimat asing itu seolah-olah diperuntunkan intikku. Aku yakin itu bukan
kalimat biasa, mungkin semacam mantra, sesuatu yang entah bagaimana sanggup menghentikan degup
jantungku selama beberapa saat. Rasa takut menyeruak mendekap seluruh tubuhku,
aku menyesal tak mendengarkan kata-kata
ibu.
Beberapa
saat kemudian, lelaki berpenampilan aneh itu berjalan menjauh... sambil terus
meneriakkan kalimat yang sama "Hooy,
Sagala nyawa, layang ka sampurna!"Dia terus menjauh... masih
meneriakkan kalimat yang sama... menjauh...
...lamat-lamat,
ia terus meneriakkan kata-kata yang sama. Terus-menerus.
***
Dalam
ketakutan,kami mulai menggigil kedinginan. Hujan masih deras meski anginnya
sudah mereda. Lebih empat jam kami tertahan
disana. Hujan mulai rda ketika hari sudah senja. Sekitar pukul 17.15,
senja yang gelap membekap desa yang murung dihajar badai. Seorang lelaki tua baru mulai mengaji
di depan mimbar masjid ketika kami memutuskan untuk pulang.
Dengan
langkah lunglai dan wajah kuyu kami pulang menyusuri jalan-jalan becek
berlumpur. Dalam hati kami menyesal. Terutama
aku, seharusnya aku mendengar nasihat ibu. Sayang, benar-benar seribu
sayang, waktu tak mungkin bisa di ulang.
Kami
berpisah di jalan utama Batunungku, bergegas menuju rumah masing-masing.
Aku
berjalan pulang, sambil terus memikirkan alasan terbaik untuk meminta maaf pada
ibu.
***
Dari jark
sekitr 20 meter, aku melihat orang-orang begitu ramai di halaman rumahku.
Sejumlah tetangga, bapak-bapak, berusaha
memindahkan sebatang pohon besar yang rubuh. Aku mulai diselimuti
perasaan asing saat melihat atap rumahku berantakan.
Ketika
mendekat, aku melihat wajah orang-orang yang sedih. Semua tetanggaku berkumpul
di halaman rumahkku.
Ada
perasaan ganjil mulai mengubak hatiku.
"Sabar,
ya, Cep." kata Mang Dimin, tetanggaku. Ia memeluk tubuhku yang lembab.
"Ada
apa, Mang?" aku mulai diliputi penasaran.
"Acep,"
Bi Sumi bergegas ke arhku dengan air mata berlinangan. Dia menggigit bibirnya
yang gemeterann, lalu memelukku erat,
"Sabar, Acep!" katanya diakhiri isak panjang. Ia menangisi di
pundakku.
Aku semakin
bingung, "Ada apa, Bi?" kataku. Aku berusaha melepaskan pelukan Bu
Sumi.
"Sabar,
ya, Acep..." hanya kata-kata yang diulangnya. Sambil terus menangis.
Tidak!
Jangan! Teriak hatiku. Di bawah tatapan iba orang-orang, kakiku menyaruk
gemeteran ke muka pintu. Perasaan ganjil itu,
makin menguat dalam hatiku. Orang-orang menatapku dengan tatapan penuh
rasa iba... di sanalah aku melihat ibuku.
Ya, ibuku.
Aku melihatnya dalam balutan kain putih yang ditumpangi kain sarung. Seluruh
keluarga sudah berkumpul. Merka
menangis.
Jangan
pergi, temani ibu disini... tiba-tiba aku ingat kata-kata itu... Jangan pergi,
temani ibu disini... Semakin jelas
terdengar ditelingaku.
Suara orang
mengaji. Isak tangis. Aku melihat ibuku terbaring di tengah rumah dengan wajah
yang tenduh.Jangan pergi, temani ibu
disini... Suara itu menguasai diriku.
Aku mulai
merasakan air mataku leleh, menghangatkan dua tebing pipiku. Jangan pergi,
temani ibu disini... Hanya kata-kata itu
yang terdengar di kepalaku.
Dalam
diriku, aku melihat senyum ibu. Kain sarungnya. Aku mencium bau rambutnya.
***
Sebuah
pohon besar roboh dan menimpa rumah kami. Ibu sendirian disana. Tertimpa
meruntuhkan dan terjepit pohon itu. Hujan
begitu deras. Angin bertiup kencang.
Seharusnya
aku ada di sana menemani Ibu. Ya, seharusnya aku tak pergi, seperti kata Ibu.
Aku menyesal, seharusnya aku tak pergi,
seharusnya aku bisa menyelamatkan ibuku...
***
Aku menarik
napas panjang, mengumpulkan kenangan-kenangan buruk dan rasa sedih yang selalu
kembali, lalu mengembuskannya agar menguap
bersama waktu. Pelan-pelan aku berbisik, "Hooy, Sagala nyawa, layang ka
sampurna."
Aku merapal
mantra itu berkali-kali, semacam satu-satunya obat yang harus kutelan untuk
melupakan kesedihan yang terus menerus
kurasakan; semuanya memang akan mati--pergi menuju kesempurnaan.
Aku
mengerti, tetapi begitu sulit untuk menerimannya.
Ya, tidak
semua yang kita tinggalkan akan hilang, ada yang terus mengikuti kita, laksana
bayang-bayang. Dan bagi hidupku, mungkin
itu rasa bersalah kepada ibuku. Aku tahu ibu memaafkanku, tetapi betapa sulit
aku memaafkan diriku sendiri.
***
Aku terpaku
menatap hujan di luar jendela. Angin bertiup kencang menerobos tingkap-tingkap
kaca. Perasaan itu datang lagi, seperti
biasa.
Kini,
satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk menebus rasa bersalah adalah melakukan
apa saja yang terbaik yang aku bisa-- yang aku tahu akan membuat ibuku
bahagia..disana... Setidaknya, meski ibu tak lagi di sini, di sampingku. Ibu
selalu ada di sini, di dadaku; Menjadi
'cahya cinta sejati' bagi hidupku...
Ku tak kan mampu berdiri
'tuk Raih semua mimpi…
tanpa Cahya Cinta Sejati
Ku tak kan jelang hari…
'Tuk gapai semua hati…
Tanpa Cahya Cinta Sejati
Kucoba tumpahkan semua angan
Perlahan tapi pasti kucoba
resapi
Kasih sayang keluarga yang slalu
ku sayangi
Ku berjuang dengan cinta yang
tak kan mati
Mengalir dan tak akan pernah
berhenti
Bagai desiran ombak samudera
yang terus menghantam,
hujam, bantaman dataran bumi ini
Salam dari ku adalah sapa
dari mereka adalah doa
Agar hidup ku raih titik
sempurna
dorongan jiwa taburan cinta
adalah anugerah tak terbatas
Semoga semuanya berkah tak
bertepi
selalu tersirami hingga kelak ku
dapat meraih hati
semua cita-cita cinta dan mimpi
dengan cinta sejati
Untuk mereka yang masih beridir dengan'cahya cinta sejati' mereka, keluarga tercintabersyukurlah, berbahagialahDi luar sana, barangkali ada seseorang yang begitu iripada hidup yang saat ini sedang kau cari-maki...
0 Response to "Cahya Cinta Sejati ~"
Posting Komentar